DENPASAR — Ajang pencarian bibit atlet kabaddi di Bali masih menghadapi kendala struktural. Dari total sembilan kabupaten/kota di Pulau Dewata, baru tujuh daerah yang berpartisipasi dalam Porjar Bali 2026. Dua daerah yang belum terlibat adalah Karangasem dan Tabanan.
Karangasem Nihil Pengurus, Tabanan Mandek Pembinaan
Menurut I Made Sukawan Adika, Karangasem menjadi satu-satunya daerah yang belum memiliki organisasi kabaddi di tingkat kabupaten. Akibatnya, tak ada atlet yang bisa dikirimkan ke ajang pelajar tahun ini. Sementara itu, Tabanan justru mengalami kemunduran. Padahal, pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) sebelumnya, Tabanan menjadi tuan rumah penyelenggaraan cabang kabaddi.
“Di Tabanan tuh sebenarnya, waktu Porprov Kabaddi ada di Tabanan itu sebenarnya ada. Tapi mungkin masalah atlet dan sebagainya, jadi Tabanan enggak ngirim di Porjar. Dan Karangasem memang belum terbentuk disana (kabaddi, red),” ujar Sukawan, Selasa (2/6).
Porjar Jadi Gerbang Awal Menuju PON
Meski dua daerah absen, Porjar tetap menjadi momentum strategis. Kompetisi ini merupakan tahap pertama dari rantai pembinaan atlet kabaddi di Bali. Seleksi akan berlanjut ke Porprov, lalu ke pemusatan latihan (TC) sebelum akhirnya menuju Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Tujuannya di Porjar ini kan kita melihat dulu atlet-atlet yang potensial, yang nanti masuk ke Porprov, kemudian tingkatannya adalah ke PON nantinya ke depan,” jelas Sukawan.
Ia menambahkan, sistem seleksi atlet tergolong ketat. Tidak ada tim bayangan untuk Porprov. Atlet akan langsung diseleksi dan dipersiapkan melalui pemusatan latihan intensif setelah hasil pertandingan Porjar dan Porprov diketahui. “Untuk Porprov, tim bayangan tidak ada. Jadi langsung nanti di hasil seleksi nantinya. Pas di Porprov itu bisa kita latih secara intensif untuk persiapan PON,” tegasnya.
Dominasi Tiga Daerah: Badung, Denpasar, Gianyar
Sukawan mengakui, peta kekuatan kabaddi Bali masih timpang. Selama gelaran Porjar, dominasi masih dipegang oleh tiga daerah. “Yang pasti, selama Porjar ini biasanya yang mendominasi adalah Badung, kemudian Denpasar, dan Gianyar,” pungkasnya.
Meski begitu, ia optimistis potensi atlet dari tujuh daerah yang berpartisipasi cukup merata. “Kalau dilihat dari Porjar ini unggulannya semua potensinya bagus. Sekarang tinggal kita buktikan di arena pertandingan ini bagaimana,” tambahnya.
Ketimpangan partisipasi ini menjadi pekerjaan rumah bagi FOKSI Bali. Pembentukan struktur organisasi di Karangasem dan pengaktifan kembali pembinaan di Tabanan menjadi prioritas agar regenerasi atlet kabaddi Bali tak terhambat ke depan.