TABANAN — Desa Jatiluwih kembali menggelar festival tahunan yang memadukan seni budaya, tradisi, dan kelestarian alam. Jatiluwih Fest Ke-VII berlangsung selama dua hari, 20-21 Juni 2026, dengan tema selaras alam yang terinspirasi dari tradisi.
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya dalam sambutannya menekankan bahwa di tengah gempuran pariwisata modern, Jatiluwih tetap eksis menjaga ekosistem pertanian. “Tugas kita sekarang adalah merawatnya,” ujarnya.
Tabanan memiliki kearifan lokal sebagai warisan alam semesta. Desa Wisata Jatiluwih resmi diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Budaya Dunia pada 29 Juni 2012, berkat sistem pengairan tradisional Subak. “Ribuan tahun yang lalu, subak ini adalah tata kelola manajemen air yang sampai sekarang masih ada, pimpinan subak bernama pekaseh,” tegas Sanjaya.
Konsep nyegara gunung—keselarasan antara laut dan gunung—masih dipertahankan masyarakat Jatiluwih. Sawah berundak-undak dengan manajemen air merata menjadi bukti adaptasi terhadap alam. “Ketika diberikan kesuburan, apa yang bisa dilakukan? Salah satunya bercocok tanam,” kata Bupati.
Melalui warisan alam heritage ini, Festival Jatiluwih Ke-VII menjadi momentum menjaga pariwisata alam dan budaya. “Festival ini menggerakan ekonomi yang paling elementer. Pengolahan padi, beras, menjadi produk kreatif lainnya,” jelas Sanjaya. Ia menambahkan, event ini mampu melahirkan produk baru dan menggerakkan kreativitas seni budaya di dalamnya.
Manager DTW Jatiluwih John Ketut Purna mengungkapkan, pembukaan festival dimeriahkan tarian maskot ‘Srijaton Linui’—dewi kesuburan dan keindahan alam Jatiluwih. Puluhan stand kuliner disiapkan untuk wisatawan lokal dan mancanegara.
Hari Minggu (21/6/2026) menjadi puncak acara dengan Fun Run 5K yang melibatkan 2.000 pelari. Kegiatan ini digelar dalam rangka menyambut 100 tahun pariwisata Bali, bekerja sama dengan ASITA Bali. Malam harinya, pengunjung akan dihibur penyanyi Bali Yan Srikandi.
Ketut Purna berharap Jatiluwih Fest yang telah masuk dalam agenda Kharisma Event Nasional dapat menjadi sarana promosi dan komitmen menjaga sistem subak. “Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh undangan, di Desa Wisata Jatiluwih, yang dikenal bukan saja karena keindahan alam, tetapi juga karena nilai tradisi subak di dalamnya,” pungkasnya.