Tiga Kelompok Teater Muda Tampil di Festival Seni Bali Jani 2026, Angkat Tajen hingga Konflik Antargenerasi

Penulis: Xander Situmorang  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 13:57:31 WIB
Teater Galang Kangin membawakan lakon 'Panen Anak' yang menyoroti trauma akibat pola asuh otoriter dalam pementasan di Festival Seni Bali Jani 2026.

DENPASAR — Tiga kelompok teater yang tampil di Pawimba Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menunjukkan kematangan dalam akting, penguasaan karakter, hingga teknik panggung. Pementasan yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (16/7/2026) itu mayoritas diisi oleh pemain muda. Mereka memadukan akting, tata artistik, pencahayaan, musik, dan properti untuk menghadirkan pengalaman visual serta emosional yang sarat refleksi sosial.

Lakon ‘Panen Anak’ Soroti Trauma Pola Asuh Otoriter

Pementasan dibuka oleh Teater Galang Kangin lewat naskah Panen Anak karya Manik Sukadana. Lakon ini mengisahkan Artha, seorang petani cabai yang trauma terhadap pola asuh otoriter ibunya, Rahayu, sehingga ia menolak memiliki anak. Sementara itu, istrinya, Marna, setiap hari menyaksikan anak-anak menjadi korban ambisi orang tua mereka. Konflik keluarga itu terus membesar hingga membuka kembali luka lama dan egoisme yang selama ini terpendam.

Teater Jungut Sari Sajikan Tajen Lewat Pendekatan Musikal

Teater Jungut Sari dari Sukawati, Gianyar, membawakan naskah Keok dengan pendekatan musikal yang menonjol. Sejak awal, suasana kalangan tajen dibangun melalui koreografi, permainan musik tradisional Bali yang dipadukan dengan aransemen kontemporer, serta tata artistik yang terus berubah. Bambu-bambu di panggung disulap menjadi pagar, tempat duduk, hingga arena tajen. Sementara guungan atau keranjang ayam tidak hanya berfungsi sebagai properti, tetapi juga menjadi simbol perjalanan hidup dan gejolak emosi para tokoh.

“Kelompok kami sengaja menghadirkan pendekatan baru karena pertunjukan ini berada dalam kategori drama modern. Kami mencoba menawarkan pengalaman baru melalui musikalitas,” ujar penggarap Teater Jungut Sari, I Kadek Aria Dwi Diana Putra Wigunaha atau Andi. Menurutnya, naskah Keok dipilih karena dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Bali. Di balik kontroversi tajen yang kerap dipandang sebagai perjudian, tersimpan berbagai persoalan sosial, mulai dari denyut ekonomi masyarakat hingga dinamika sosial yang mengiringinya.

Teater Masa Kini Tambah Unsur Kecak dan Interaksi Penonton

Teater Masa Kini menghadirkan tafsir berbeda terhadap naskah Keok. Kelompok ini mengemas cerita dalam konsep teater modern bernuansa Bali dengan memperkuat unsur hiburan, simbolisme, dan interaksi dengan penonton. Selain mempertahankan alur utama, mereka menambahkan permainan dialog, humor, atraksi kecak, hingga koreografi yang membuat pertunjukan lebih dinamis tanpa mengubah struktur utama cerita.

Asisten Sutradara Teater Masa Kini, I Komang Artana Anugrah, mengatakan seluruh peserta memperoleh naskah yang sama dari panitia. Karena itu, tantangan utamanya bukan pada cerita, melainkan bagaimana setiap kelompok menerjemahkannya menjadi pertunjukan yang memiliki karakter dan identitas sendiri. “Konsepnya hampir sama, hanya bungkusannya yang berbeda. Pembeda itu ada pada dialog, permainan adegan, jokes kepada penonton, hingga tambahan unsur seperti kecak,” ujarnya.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: tatkala.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top