DENPASAR — Pelindo memastikan pengembangan kawasan marina internasional di BMTH tidak akan menghentikan aktivitas nelayan yang sudah berlangsung puluhan tahun di Pelabuhan Benoa. Direktur Pengembangan Usaha Pelindo Prasetyo mengatakan harmonisasi ini mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional.
"Dengan pengaturan ruang dan alur pelayaran yang baik, aktivitas perikanan tetap dapat berjalan, sementara pengembangan marina internasional juga dapat berlangsung secara harmonis," kata Prasetyo di Denpasar, Selasa.
Salah satu fokus utama pengembangan BMTH adalah penataan kapal perikanan secara bertahap. Pelindo merencanakan relokasi aktivitas perikanan ke Pelabuhan Perikanan Pengambengan (PPN) di Kabupaten Jembrana, Bali bagian barat. Langkah ini diambil untuk mengurai kepadatan di Pelabuhan Benoa sekaligus mempersiapkan kawasan tersebut sebagai pusat pariwisata maritim kelas dunia.
Area pengembangan I BMTH seluas 24,77 hektare akan disulap menjadi marina district yang mampu menampung hingga 180 kapal wisata (yacht) dengan panjang maksimum 90 meter. Kawasan ini akan dilengkapi area hiburan, kawasan gaya hidup, dan ruang publik terintegrasi sebagai destinasi wisata maritim internasional.
Sementara itu, area pengembangan II seluas 45 hektare direncanakan untuk zona energi, kargo, logistik, dan Taman Segara Kerthi.
Sepanjang 2025, Pelabuhan Benoa mencatat 65 kapal pesiar internasional bersandar, meningkat 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah wisatawan yang datang melalui kapal pesiar mencapai sekitar 146 ribu orang, tumbuh 36 persen secara tahunan.
Prasetyo menambahkan bahwa pengembangan BMTH diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Bali, memperkuat daya saing pariwisata maritim Indonesia, dan menjadikan Pelabuhan Benoa sebagai salah satu destinasi marina dan kapal pesiar terkemuka di Asia Pasifik.