BALI — Label "Lite" di dunia smartphone Indonesia biasanya berarti pemangkasan spek demi harga murah. realme P4 Lite mencoba melawan arus itu dengan fokus pada dua hal: baterai dan durabilitas. Alih-alih mengejar skor benchmark tinggi, ponsel ini dirancang untuk pengguna yang lebih peduli pada ketahanan sehari-hari—mulai dari tak perlu colok charger setiap malam hingga tidak panik saat ponsel terjatuh.
Unit yang kami uji adalah varian warna Pulse Purple. Secara visual, ponsel ini terlihat lebih mahal dari harga aslinya. realme berhasil menyematkan baterai raksasa ke dalam bodi setebal 8,38mm—angka yang impresif untuk kapasitas sebesar itu.
Fitur yang paling membedakan P4 Lite dari kompetitor di kelasnya adalah sertifikasi MIL-STD-810H. realme mengklaim ponsel ini mampu bertahan dari jatuh dari ketinggian 2 meter. Kami tidak melakukan uji jatuh sengaja, tapi build quality-nya terasa solid saat digenggam, tidak ada creaking atau kesan murahan.
Sayangnya, bezel bawah (dagu) masih cukup tebal. Ini tidak mengganggu saat menonton video, tapi cukup terlihat ketika layar menampilkan background putih. Untuk gaming, area sentuh tetap lega dan nyaman digenggam dalam sesi panjang.
Panel 6,8 inci dengan refresh rate 120Hz membuat navigasi harian terasa responsif. Kecerahan puncak 900 nits (HBM) cukup membantu saat menggunakan ponsel di bawah terik matahari Jakarta—layar masih terbaca jelas, meski tidak secemerlang panel AMOLED di kelas di atasnya.
Fitur DC Dimming patut diapresiasi. Di lingkungan redup, layar tidak menunjukkan PWM flicker yang mengganggu mata sensitif. Mini Capsule di bagian punch-hole juga fungsional: menampilkan status ride-hailing dan langkah kaki tanpa perlu membuka aplikasi.
Speaker dengan Mode Volume Ultra 300% mencapai 86dB—cukup keras untuk mendengarkan musik di kamar mandi atau menonton video saat memasak. Kualitas suara memang cenderung "nembak" di frekuensi tinggi, tapi untuk konsumsi konten kasual, ini lebih dari cukup.
Chipset Unisoc T7250 adalah kompromi terbesar P4 Lite. Skor AnTuTu 394.348 menempatkannya di kelas entry-level. Dalam pengujian kami, Free Fire berjalan dengan rata-rata 59,5 FPS dan Mobile Legends sekitar 59,7 FPS—angka yang stabil untuk game kompetitif populer.
Namun, jangan berharap bisa memainkan Genshin Impact atau Honkai: Star Rail di setting tinggi. Pada beban berat, frame rate turun drastis dan thermal throttling mulai terasa setelah 15-20 menit bermain. Sistem pendingin VC 5.300mm² membantu, tapi tidak bisa menutupi keterbatasan chipset.
RAM 4GB yang bisa diperluas hingga total 12GB via Dynamic RAM membantu multitasking. Membuka 8-10 aplikasi secara bergantian masih mulus, meski aplikasi berat seperti kamera dan game akan memaksa sistem untuk me-refresh aplikasi latar.
Ini adalah alasan utama membeli ponsel ini. Dalam pemakaian campuran—sosmed, YouTube, gaming ringan 1 jam, dan navigasi GPS—baterai bertahan hingga 2 hari 3 malam. Angka ini jauh melampaui rata-rata smartphone di kelas harganya yang biasanya harus di-charge setiap malam.
Kelemahannya ada di kecepatan charging. Dengan kapasitas sebesar ini, mengisi dari 0% hingga penuh membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika kamu tipe pengguna yang sering lupa charge dan butuh "top-up" cepat sebelum berangkat kerja, ponsel ini akan menguji kesabaranmu.
realme P4 Lite adalah ponsel spesialis. Ia tidak dirancang untuk menjadi all-rounder. Jika kebutuhanmu adalah ponsel yang jarang di-charge, tahan banting, dan cukup untuk game ringan—ponsel ini adalah pilihan menarik di kelas Rp 2 jutaan.
Sebaliknya, jika kamu mobile gamer sejati atau pengguna yang sering multitasking berat, ponsel ini akan membuatmu frustrasi. Untuk budget yang sama, ada opsi lain dengan chipset lebih bertenaga, tapi dengan kompromi di kapasitas baterai.
Keputusan akhir kembali ke prioritas: apakah kamu lebih butuh ketenangan pikiran soal baterai, atau performa mentah untuk gaming? Kalau jawabannya yang pertama, P4 Lite layak masuk daftar pendekmu.