Pencarian

Harga Emas Antam Naik ke Rp 2,71 Juta per Gram, Buyback Tembus Rp 2,546 Juta

Selasa, 11 Agustus 2026 • 11:41:01 WIB
Harga Emas Antam Naik ke Rp 2,71 Juta per Gram, Buyback Tembus Rp 2,546 Juta
Harga emas Antam tercatat naik ke Rp 2,71 juta per gram dengan harga buyback Rp 2,546 juta per gram.

BALI — Lonjakan harga buyback yang lebih tinggi dibandingkan harga jual menjadi sinyal menarik bagi pemegang emas. Selisih antara harga jual dan harga beli kembali kini menyempit, mencerminkan permintaan yang sehat di pasar domestik. Adapun harga buyback adalah patokan yang berlaku ketika konsumen menjual kembali emasnya ke Antam, sementara harga awal yang dipublikasikan merupakan harga jual resmi ke pembeli.

Mengutip situs resmi Logam Mulia, Antam membanderol emas 0,5 gram di angka Rp 1.405.000, sementara untuk ukuran 1 gram berada di posisi Rp 2.710.000. Untuk pecahan lebih besar, emas 10 gram dijual Rp 26.595.000 dan ukuran 100 gram mencapai Rp 265.212.000. Harga ini bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global maupun domestik.

Rekor Tertinggi Masih Jauh, Tapi Momentum Menguat

Meski menguat, harga saat ini masih berada sekitar 14,5 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang sejarah yang dicetak pada Kamis (29/1/2026). Saat itu, emas Antam sempat menyentuh Rp 3.168.000 per gram dengan buyback di level Rp 2.989.000 per gram. Pergerakan terkini menunjukkan tren pemulihan setelah sempat terkoreksi dalam beberapa bulan terakhir.

Di pasar global, harga emas spot bergerak menguat 0,4 persen ke posisi US$ 4.356,79 per ounce. Pada perdagangan Jumat pekan lalu, emas sempat menyentuh US$ 4.371,63 per ounce, level tertinggi sejak 17 Juni 2026, setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (nonfarm payrolls) mencatat penurunan yang tak terduga. Kontrak emas berjangka AS juga naik 0,4 persen menjadi US$ 4.416,00 per ounce.

China Borong Emas, Investor Khawatir Tertinggal

Salah satu katalis utama penguatan harga adalah aksi bank sentral China yang meningkatkan pembelian emas pada Juli 2026. Data resmi yang dirilis pekan lalu menunjukkan tambahan cadangan bullion tersebut menjadi yang terbesar sejak Oktober 2023. Langkah ini dipandang pasar sebagai sinyal bahwa permintaan emas dari sektor resmi masih solid di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menilai momentum teknikal emas saat ini masih cukup kuat. Ia menyebut pelaku pasar masih berhati-hati karena mempertimbangkan pembelian China serta rilis data inflasi AS pekan ini.

"Perdagangan masih cenderung berhati-hati, dengan adanya pembelian dari China, serta laporan CPI dan PPI Juli pekan ini, ditambah kekhawatiran tertinggal jika harga kembali bergerak di atas US$ 4.500 untuk sementara waktu," ujar Haberkorn.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Berikutnya

Perhatian investor kini tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan keluar Rabu (12/8/2026) dan Producer Price Index (PPI) pada Kamis. Ekonom yang disurvei memperkirakan inflasi konsumen AS pada Juli naik 3,4 persen secara tahunan, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,5 persen pada Juni 2026.

Market Analyst American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai data CPI akan menjadi penentu arah pergerakan emas berikutnya. Ekspektasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda membuat investor semakin memperhatikan kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda pendinginan, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin terbuka — sebuah skenario yang umumnya menguntungkan bagi emas sebagai aset lindung nilai.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks