DENPASAR — Rasio kepemilikan kendaraan di Kota Denpasar saat ini berada di titik kritis. Dengan populasi sekitar 800 ribu jiwa, tercatat lebih dari 1,4 juta unit kendaraan bermotor memadati jalanan, atau setara dengan 2-3 unit kendaraan untuk setiap satu rumah tangga. Kondisi ini menjadi biang keladi utama kemacetan di sejumlah ruas jalan protokol.
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mulai menggeser paradigma penanganan kemacetan. Jika selama ini fokus pada pelebaran jalan, kini upaya difokuskan pada penyediaan transportasi umum yang terintegrasi dan fasilitas pejalan kaki yang nyaman.
Kepala Dishub Kota Denpasar, I Ketut Sriawan, menegaskan bahwa penataan kawasan perkotaan dan pelebaran trotoar yang dilakukan Pemkot bukan semata untuk mempercantik wajah kota. Lebih dari itu, fasilitas tersebut dirancang untuk merangsang warga agar mau berjalan kaki untuk perjalanan jarak dekat.
“Harapan kami bisa mengubah perilaku sekarang. Artinya, model yang diterapkan di Jalan Danau Tamblingan Sanur misalnya, perilaku masyarakat mulai kita ubah dengan menyiapkan armada shuttle dan infrastruktur penunjangnya,” ujar Sriawan, Selasa (18/8/2026).
Lonjakan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan panjang jalan membuat pembangunan fisik semata mustahil mengejar ketertinggalan. Oleh karena itu, Dishub Denpasar menilai solusi kemacetan tidak bisa hanya bergantung pada pembangunan maupun penataan infrastruktur fisik.
Langkah ini diambil sebagai upaya jangka panjang untuk menekan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Dengan adanya armada shuttle di kawasan padat seperti Sanur, warga diharapkan mulai terbiasa memanfaatkan transportasi publik untuk mobilitas sehari-hari.
Perubahan perilaku ini memang tidak instan, tetapi dampaknya akan terasa signifikan jika konsisten dijalankan. Selain mengurangi kepadatan lalu lintas, pergeseran moda transportasi ini juga berpotensi menurunkan tingkat polusi udara di pusat kota.
Dishub Denpasar optimistis kombinasi antara penyediaan transportasi umum terintegrasi dan fasilitas pejalan kaki yang representatif mampu menekan angka penggunaan kendaraan pribadi secara bertahap. Keberhasilan model di Jalan Danau Tamblingan akan menjadi tolok ukur untuk diterapkan di kawasan-kawasan padat lainnya di Kota Denpasar.