BALI — Kesunyian malam dan hamparan bintang di langit perlahan menjadi komoditas baru di industri perhotelan mewah dunia. Resor-resor kesehatan (wellness resort) mulai memasang teleskop canggih dan merancang program meditasi di bawah langit terbuka, bukan sekadar untuk mengamati benda langit, melainkan sebagai terapi untuk menjernihkan pikiran. Dua properti terbaru yang mengusung konsep ini adalah Bliss and Stars Retreat di kawasan Cederberg, Afrika Selatan, dan Kosmos Stargazing Resort + Spa di San Luis Valley, Colorado, AS.
Kedua resor tersebut memasarkan keunggulan utama yang sama: langit malam yang bebas dari polusi cahaya. Di Cederberg, pengunjung dapat menikmati pemandangan galaksi Bima Sakti secara kasat mata. Sementara di San Luis Valley, kawasan yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan langit paling gelap di Amerika Utara, para tamu bisa menyaksikan kepekatan langit yang menampilkan ribuan bintang dengan mata telanjang.
Fasilitas ini bukan sekadar pemandangan. Heine Rasmussen, astrofisikawan kelahiran Denmark sekaligus pemilik Bliss and Stars Retreat, menjelaskan bahwa perasaan kagum yang muncul saat memandang langit malam memicu efek psikologis yang disebut small self effect. "Masalah Anda, kepentingan diri Anda, dan kebisingan mental Anda menyusut sejenak saat Anda menatap bintang," ujarnya.
Berbagai properti kini merancang program khusus yang menggabungkan aktivitas fisik dengan kontemplasi langit:
Mark Westmoquette, astrofisikawan dan guru meditasi yang menjalankan retret stargazing penuh kesadaran di Inggris dan Eropa, menyatakan bahwa malam hari secara alami lebih hening dan tenang dibandingkan siang hari. "Saat cahaya meredup, indra lain kita meningkat, membantu kita terbangun secara jelas pada momen saat ini," jelasnya.
Studi menunjukkan aktivitas ini membantu menenangkan sistem saraf dan meningkatkan kebahagiaan. Westmoquette menambahkan bahwa kehilangan diri dalam hamparan langit malam merangsang rasa ingin tahu, yang berujung pada kekaguman. "Kekaguman adalah prekursor dari perasaan awe, dan awe diketahui memiliki efek positif yang kuat pada kesehatan mental," katanya.
Menurut Dominic Vertue, Project Lead Astronomy for Mental Health Project di IAU Office of Astronomy for Development, manfaat tetap didapat baik menggunakan teleskop maupun mata telanjang. "Teleskop mempersempit perhatian dan menambah unsur pembelajaran. Pengamatan dengan mata telanjang memberikan sensasi langit yang luas dan imersif, yang lebih baik untuk mendukung perasaan awe dan pemulihan," terangnya. Vertue merekomendasikan sesi yang menggabungkan keduanya: sedikit pengamatan terpandu, lalu diikuti dengan pengamatan bebas yang tenang.
Bliss and Stars Retreat berlokasi di Cederberg, Afrika Selatan, sekitar 2-3 jam berkendara dari Cape Town. Kosmos Stargazing Resort + Spa berada di San Luis Valley, Colorado, AS. Untuk pengalaman terbaik, kunjungan sebaiknya dijadwalkan saat fase bulan baru atau saat bulan tidak terlalu terang agar langit terlihat lebih pekat. Cal-a-Vie Health Spa di California dan Four Seasons Resort Lanai di Hawaii juga menawarkan program serupa dengan fasilitas observatorium berteknologi tinggi.
Untuk menikmati pengalaman ini secara optimal, luangkan waktu setidaknya 30 menit dalam keheningan agar mata dan pikiran beradaptasi dengan kegelapan. Hindari melihat layar ponsel sebelum sesi dimulai karena cahaya putih dapat merusak adaptasi mata terhadap gelap. Informasi terkini mengenai jadwal sesi stargazing dan ketersediaan tiket dapat dikonfirmasi langsung melalui situs resmi masing-masing resor.
Durasi ideal untuk merasakan manfaat penuh dari liburan bertema stargazing ini adalah minimal dua malam. Ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk menyesuaikan ritme dan bagi pengunjung untuk merasakan transisi dari aktivitas siang yang padat menuju ketenangan malam yang kontemplatif—sebuah pengalaman yang jarang ditemukan dalam rutinitas harian modern.