JEMBRANA — Pemerintah pusat memulai transisi energi besar-besaran di Pulau Dewata melalui proyek pembangkit surya terbesar di kawasan timur Indonesia. PLTS Gilimanuk yang dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 1.000 MWh ini ditargetkan beroperasi komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2028.
Proyek yang dikembangkan melalui skema Independent Power Producer (IPP) ini akan memanfaatkan lahan seluas 321 hektare. Setelah beroperasi, PLTS Gilimanuk diproyeksikan menghasilkan energi sekitar 470 GWh setiap tahunnya.
Kapasitas sebesar itu diperkirakan mampu menghemat konsumsi bahan bakar minyak hingga 151 ribu kiloliter per tahun. Pembangkit ini nantinya terhubung dengan jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Negara-Gilimanuk.
Peluncuran program PLTS 100 GWp sekaligus groundbreaking di Jembrana ini merupakan implementasi Asta Cita, khususnya agenda swasembada energi dan hilirisasi. Pada tahap awal, pemerintah mengeksekusi 14 proyek PLTS yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau dengan total kapasitas sekitar 5,2 GWp.
“Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi meluncurkan program pembangkit listrik tenaga surya 100 GWp. Ini merupakan program untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia,” ujar Prabowo dalam sambutannya.
Presiden optimistis target pembangunan PLTS berkapasitas total 100 GWp dapat diwujudkan dalam kurun waktu tiga tahun. Bahkan, ia membuka peluang agar target tersebut dapat diselesaikan lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan.
Selain PLTS Gilimanuk, sejumlah proyek raksasa masuk dalam gelombang pertama program ini. PLTS Jatiluhur menjadi yang terbesar dengan kapasitas 1.688 MWp, disusul PLTS Cirata 1.250 MWp, PLTS Jatigede 636 MWp, dan PLTS Madura 605 MWp.
Sejumlah proyek lainnya saat ini berada dalam tahapan berbeda, mulai dari proses tender, konstruksi, groundbreaking hingga peresmian.
Secara keseluruhan, pengembangan Program PLTS 100 GWp membutuhkan investasi mencapai sekitar Rp 1.140 triliun. Pemerintah memperkirakan program ini memberikan efisiensi biaya BBM hingga Rp 73,9 triliun setiap tahun.
Dari sisi ketenagakerjaan, pengembangan PLTS skala nasional tersebut diperkirakan menciptakan sekitar 3,46 juta lapangan kerja selama tahap konstruksi. Lebih dari 2 juta tenaga kerja juga diproyeksikan terserap di sektor manufaktur yang berkaitan dengan pengembangan energi surya.
Dalam agenda tersebut, Prabowo didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, serta Bupati dan Wakil Bupati Jembrana.