Pencarian

Alih Fungsi Lahan di Kintamani Menggerus Vegetasi 4,25 Km², Area Terbangun Meluas Hingga 10,12 Km²

Rabu, 26 Agustus 2026 • 14:32:02 WIB
Alih Fungsi Lahan di Kintamani Menggerus Vegetasi 4,25 Km², Area Terbangun Meluas Hingga 10,12 Km²
Alih fungsi lahan di Kintamani mengurangi vegetasi seluas 4,25 km² dan memperluas area terbangun hingga 10,12 km².

Kecamatan Kintamani yang membentang seluas 365,45 km² dengan 48 desa tengah berubah wajah. Lahan pertanian dan semak belukar yang dulu mendominasi lereng kaldera kini terselip di antara deretan kafe, restoran, dan penginapan yang menjamur di sepanjang koridor jalan utama.

Penelitian Landscape Transformation in Batur Geopark: Remote Sensing Analysis of Land Use Change in Kintamani, Bali (2022-2024) mengungkap pergeseran signifikan. Selain vegetasi yang turun dari 211,91 km² menjadi 207,66 km², lahan terbuka dan semak belukar juga menyusut. Sebaliknya, lahan pertanian dan area terbangun mengalami peningkatan.

Peneliti menilai pola ini bukan ekspansi perkotaan masif, melainkan reaktivasi ruang semi-alami menjadi pemanfaatan ekonomi yang lebih intensif. Titik perubahan terbesar terkonsentrasi di kawasan Museum Geopark Batur dan jalan utama yang memiliki nilai lanskap tinggi.

Manis dan Kecutnya Pariwisata bagi Warga Lokal

Ari (23), warga yang bekerja sebagai housekeeping di sebuah hotel sekaligus menggarap kebun, merasakan langsung dampak transformasi ini. Tahun 2022, ia sempat merantau ke Denpasar dengan pekerjaan serupa, tetapi upahnya tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pun pulang kampung dan bekerja di Kintamani berkat bantuan sepupunya.

"Setelah saya balik (ke Kintamani), sudah banyak dibangun cafe dan juga restoran baru. Ada juga beberapa restoran lama yang direnovasi," ujar Ari.

Ia mengaku terkejut dengan pesatnya pembangunan. Saat usianya 16 tahun, pemandangan Gunung Batur masih terlihat jelas dari jalan utama. Kini, deretan bangunan komersial menghalangi vista tersebut. Namun, di balik gemerlapnya, tak sedikit restoran yang justru terbengkalai akibat sepinya kunjungan saat pandemi Covid-19.

"Itulah manis dan kecutnya pariwisata," katanya.

Mengapa Lahan di Kintamani Begitu Cepat Berubah?

Perubahan ini tidak lepas dari status kawasan yang terus diperkuat regulasi. Sejak 2009, Kintamani ditetapkan sebagai Kawasan Daya Tarik Wisata Khusus (KDTWK) melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 tentang RTRW Provinsi Bali. Status tersebut dipertegas lagi dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bangli Nomor 1 Tahun 2023 tentang RTRW Kabupaten Bangli 2023-2043.

Pengakuan internasional datang pada 2012, ketika UNESCO menetapkan kaldera Gunung Batur sebagai Global Geopark. Saat itu, Kementerian ESDM menyebut penetapan ini sebagai promosi gratis ke dunia internasional. "Kita akan mendapat promosi ke dunia internasional tanpa harus mengeluarkan biaya besar," kata Dodid Murdohardono, Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Namun, status prestisius itu berkonsekuensi pada tekanan ekologis. Riset mengaitkan pertumbuhan ekonomi di Kintamani dengan pemulihan pasca-pandemi, melonjaknya wisata domestik ke destinasi alam terbuka, tren vila dan glamping berskala kecil, serta fluktuasi harga komoditas pertanian.

Ancaman di Kawasan Cincin Api

Kekhawatiran warga bukan hanya soal macet dan sampah. Kintamani berada di kawasan vulkanik aktif. Letusan Gunung Batur Purba sekitar 30 ribu tahun silam membentuk kaldera ganda dan Danau Batur. Sejarah mencatat letusan dahsyat pada 1926 yang menghancurkan Desa Batur Asli, memaksa warga mengungsi beramai-ramai dalam peristiwa yang dikenal sebagai Rarud Batur.

Deretan letusan tercatat pada 1804, 1917, 1926, 1963, 1974, 1994, 1999, hingga 2000. Pasca-letusan 1926, lanskap sekitar Gunung Batur banyak berubah dan memicu perubahan tata ruang permukiman warga.

Di tengah ancaman geologis itu, pembangunan fisik terus berjalan. Penelitian menegaskan bahwa alih fungsi lahan terjadi di area bernilai lanskap tinggi, yang justru menjadi daya tarik utama wisatawan. Jika tidak dikendalikan, bukan hanya pemandangan yang hilang, tetapi juga keseimbangan ekosistem kaldera yang menjadi sumber kehidupan warga.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: balebengong.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks