Fakultas Teknik Universitas Dwijendra dan Gapeksindo Denpasar Gelar FGD Kawal Arsitektur Tradisional Bali di Tengah Modernisasi

Penulis: Xander Situmorang  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:53:24 WIB
Peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) tentang pelestarian Arsitektur Tradisional Bali di tengah modernisasi yang digelar Fakultas Teknik Universitas Dwijendra bersama Gapeksindo Denpasar.

DENPASAR — Arus modernisasi yang deras di Bali, khususnya Kota Denpasar, menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian Arsitektur Tradisional Bali. Menyikapi hal ini, Fakultas Teknik Universitas Dwijendra berkolaborasi dengan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Kota Denpasar menggelar FGD yang dihadiri kalangan akademisi, birokrat, pengusaha, hingga alumni.

Wakil Rektor II Universitas Dwijendra, Dr. Ir. Arya Bagus Mahadwijati W, ST., MT., menegaskan bahwa modernisasi dalam pembangunan memang tidak bisa dihindarkan. Namun, ia menekankan nilai-nilai kearifan lokal sebagai identitas lokal Bali harus tetap dijaga dan diperkuat seiring berjalannya pembangunan.

Akar Filosofis di Balik Setiap Bangunan

Rektor Universitas Dwijendra, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA., menyebut bahwa memperkuat Denpasar sebagai Kota Budaya harus berbasis pada nilai-nilai arsitektur tradisional Bali. Menurutnya, arsitektur tradisional bukan sekadar estetika fisik atau seni merancang bangunan, melainkan manifestasi filosofis, spiritual, dan ekologis.

Ia menjelaskan, setiap tata letak, proporsi, hingga ornamentasi pada bangunan Bali memiliki makna mendalam yang bersumber dari ajaran agama Hindu dan naskah kuno seperti Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi. Konsep ini terwujud dalam sejumlah prinsip, antara lain:

  • Tri Hita Karana — keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama (Pawongan), dan alam sekitar (Palemahan).
  • Tri Mandala — pembagian hirarki ruang berdasarkan tingkat kesucian: Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala.
  • Sanga Mandala — orientasi tata letak berdasarkan arah mata angin dengan sumbu Kaja-Kelod (Gunung-Laut) dan Kangin-Kauh (Terbit-Terbenam Matahari).

Dengan prinsip-prinsip tersebut, bangunan Bali dirancang sebagai miniatur alam semesta (Bhuana Agung) yang tecermin dalam diri manusia (Bhuana Alit).

Mengapa Pelaku Konstruksi Ikut Bertanggung Jawab?

Ketua DPC Gapeksindo Kota Denpasar, IB Gede Widnyana, ST., menilai tema FGD ini memiliki relevansi kuat dengan profesinya di dunia jasa konstruksi. Menurutnya, para pelaku konstruksi tidak hanya bertanggung jawab pada bentuk bangunan dan kekuatannya secara fungsional, tetapi juga dituntut berperan menjaga budaya, jati diri, serta identitas daerah Bali.

"Pembangunan di Kota Denpasar dan ekonomi harus tetap memperhatikan karakter serta identitas Bali dan tidak hanya mengejar aspek fisik dan ekonomi," ujarnya. Ia memastikan Gapeksindo Kota Denpasar akan menjadi bagian dari proses penguatan nilai-nilai Arsitektur Tradisional Bali.

Apa Langkah Nyata yang Diharapkan?

Dekan Fakultas Teknik Universitas Dwijendra, Dr. Ar. Desak Made Sukma Widiyani, ST., MT., IAI., menyampaikan bahwa FGD ini merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam merespons persoalan pembangunan, khususnya terkait arsitektur dan tata ruang perkotaan. Ia menegaskan identitas kota perlu dibangun melalui pendekatan yang mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern sekaligus menjaga nilai-nilai arsitektur Bali.

Ketua Yayasan Dwijendra, Dr. I Nyoman Satia Negara, SH., MH., dalam sambutannya memberikan apresiasi atas inisiatif fakultas dan berharap forum ini menghasilkan rekomendasi yang konseptual. Ia menginginkan agar pemikiran tersebut secara nyata dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan Kota Denpasar di masa mendatang.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: atnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top