DENPASAR — Data hidrologi Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida yang dirilis Selasa (8/9) menunjukkan tren penurunan muka air yang merata di sejumlah sungai besar. Kondisi ini menjadi sinyal awal tekanan serius terhadap ketersediaan air bersih dan irigasi pertanian di Pulau Dewata.
Penurunan terdalam tercatat di Tukad Yeh Mawa, Tabanan, di mana rata-rata TMA musim hujan sebesar 0,409 meter menyusut drastis menjadi hanya 0,008 meter pada musim kemarau. Angka ini menggambarkan debit air yang hampir habis di bagian hulu sungai tersebut.
Data perbandingan yang dihimpun hingga Agustus 2026 mencakup wilayah Gianyar, Tabanan, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Badung. Selain Yeh Mawa, penurunan signifikan juga terjadi di sejumlah sungai lain yang menjadi andalan irigasi.
PPK PSDA BWS Bali-Penida, Asep Yusuf, Rabu (9/9), mengatakan penurunan TMA tersebut sejalan dengan kondisi iklim Bali yang masih berada dalam periode kemarau. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan dan pemantauan ketersediaan air, khususnya selama periode musim kemarau.
Fenomena El Nino disebut berpotensi mempertahankan kondisi lebih kering dari normal. BMKG Stasiun Klimatologi Bali pada 8 September 2026 memprakirakan curah hujan September umumnya hanya 1–50 mm dengan sifat hujan dominan bawah normal, dan kondisi kering diprakirakan berlanjut hingga Oktober.
BPBD Bali mencatat dampak kekeringan pada 2026 telah terjadi di sejumlah kabupaten. Distribusi air bersih telah dilakukan ke wilayah terdampak menyusul peringatan dini kekeringan meteorologis yang dikeluarkan untuk periode 1–10 September.
Meski mayoritas sungai turun drastis, tidak semua titik mengalami penyusutan besar. Tukad Pakerisan di Gianyar hanya turun sekitar 1 persen, dari 0,855 meter menjadi 0,851 meter, sementara Tukad Melaya di Jembrana tercatat turun 4 persen. Hal ini menunjukkan karakteristik hidrologi yang berbeda antar wilayah aliran sungai.
Dengan prakiraan hujan yang baru mulai meningkat pada November, pemerintah daerah dan warga diimbau menghemat penggunaan air untuk kebutuhan domestik maupun pertanian selama sisa musim kemarau.