BADUNG — Suplai tabung gas 3 kilogram ke sejumlah warung di Kabupaten Badung tidak normal sejak dua bulan lalu. Sejumlah pedagang eceran mengaku jatah dari distributor dipangkas, dari biasanya tiap hari menjadi dua hari sekali dengan jumlah terbatas.
Dampaknya, harga di tingkat pengecer melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 18.000 per tabung. Warga dan pedagang kecil membeli rata-rata Rp 25 ribu, bahkan pernah menembus Rp 28 ribu saat stok paling sulit.
Martina (52), pedagang eceran di Banjar Bernasi, Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, menyebut pengurangan jatah pasokan langsung memicu kenaikan harga jual. Ia mengaku terpaksa menjual di atas HET karena barang sulit didapat.
"Harga standar harusnya Rp 18 ribu, tapi di pasaran saya jual rata-rata Rp 25 ribu. Warga terpaksa beli karena butuh, bahkan dulu pernah tembus sampai Rp 28 ribu per tabung saking sulitnya barang," tutur Martina.
Eni Suastini, warga Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, mengaku kesulitan setiap kali stok gas di rumahnya habis. Ia harus mencari ke pangkalan atau SPBU, meski tidak selalu kebagian.
"Belakangan kalau gas habis, pasti bingung. Sudah pasti ribet dapatnya karena harus ke pangkalan atau ke SPBU. Sempat coba, tapi ngantre, nggak semua juga dapat, apalagi di warung jarang-jarang ada," ujar Eni.
Made Rupawan, pedagang di Dalung Permai, Kuta Utara, menduga kelangkaan diperparah penggunaan gas subsidi 3 kg oleh sektor usaha besar. Laundry skala menengah hingga warung makan disebut ikut memakai tabung melon yang seharusnya untuk rumah tangga kecil.
"Banyak usaha kayak laundry dan tempat makan ikut pakai gas kecil, padahal harusnya mereka pakai gas non-subsidi tabung besar. Kan jadinya kuota gas subsidi untuk masyarakat kecil dan pedagang warung makin tergerus," tegas Made Rupawan.
Selain itu, kuota distribusi daerah dinilai tak memadai dibanding pertumbuhan penduduk dan pelaku usaha baru di Badung. Pembelian memakai KTP luar daerah di pangkalan setempat juga membuat warga terdaftar kehilangan jatah harian.
Pemkab Badung bersama PT Pertamina Patra Niaga Sales Area Bali menggelar penyaluran tambahan (extra dropping) LPG 3 kg sebanyak 6.720 tabung sejak 14 hingga 25 September 2026. Langkah darurat ini merespons kelangkaan yang terjadi merata di seluruh wilayah Bali.
"Kami berkoordinasi langsung dengan Pertamina untuk menyalurkan 6.720 tabung gas melon tambahan demi mengamankan stok wilayah yang kekurangan. Penggelontoran ini dilakukan sebanyak 48 kali penyaluran ke 24 titik lokasi yang terindikasi mengalami kelangkaan," kata Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati.
Pertamina memastikan pasokan ke tingkat agen berjalan normal tanpa keterlambatan pengiriman. Kelangkaan di lapangan dipicu lonjakan permintaan masyarakat sejak masa liburan beberapa waktu lalu yang dampaknya masih terasa.
"Pasokan dari Pertamina ke agen sebenarnya berjalan normal dan stok dipastikan aman tanpa ada keterlambatan. Kelangkaan terjadi karena konsumsi masyarakat meningkat," ujar Rosyawati.
Alokasi LPG bersubsidi untuk Kabupaten Badung ditetapkan 30 juta ton atau setara 10 juta tabung per tahun. Seluruh pasokan didistribusikan bertahap oleh PT Pertamina Patra Niaga Sales Area Bali.
"Kuota tahunan LPG tiga kilo untuk Kabupaten Badung mencapai 30 juta ton atau setara 10 juta tabung. Seluruh kuota ini didistribusikan bertahap oleh Pertamina Patra Niaga Sales Area Bali," ungkap Rosyawati.
Masyarakat diimbau membeli di pangkalan resmi dengan pembatasan satu KTP untuk satu tabung. Pembelian di sekitar 700 pangkalan resmi Badung dijamin sesuai HET Rp 18.000 berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 63 Tahun 2022.
"Untuk harga resmi HET Rp 18 ribu, masyarakat bisa membeli di 700 pangkalan resmi Badung yang lokasinya dapat dicek melalui situs subsiditepatlpg.mypertamina.id/infolpg3kg," beber Rosyawati.