BALI — Brasil datang ke Amerika Utara dengan status yang tidak lazim: bukan favorit utama. Penyebabnya jelas. Kampanye kualifikasi zona Conmebol menjadi yang terburuk sepanjang sejarah, dengan kekalahan di Argentina, Kolombia, Uruguay, Paraguay, Bolivia, dan yang paling memalukan — kekalahan kandang pertama dalam sejarah kualifikasi Piala Dunia dari Lionel Messi dan kawan-kawan.
Krisis di Dalam dan Luar Lapangan
Kekalahan 4-1 di Buenos Aires pada Maret 2025 menjadi puncak krisis. Pelatih Dorival Junior dipecat, dan ketakutan Brasil akan absen dari Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1930 mulai merebak. Namun, sistem kualifikasi yang memberi enam tiket langsung untuk sepuluh negara membuat Selecao selamat.
Bulan berikutnya, Carlo Ancelotti diumumkan sebagai pelatih baru. Pria Italia berusia 66 tahun itu langsung menghadapi masalah besar: cedera pemain kunci. Eder Militao, Rodrygo, dan Estevao dipastikan absen. “Mengingat pemain yang kami miliki, model permainan terbaik adalah dengan empat pemain di depan,” kata Ancelotti pada Maret lalu.
Formasi 4-2-4 dan Ketergantungan pada Vinicius Junior
Ancelotti menerapkan formasi 4-2-4, taktik yang membawanya sukses di Real Madrid. Gelandang bertahan harus bekerja ekstra melindungi lini belakang, terutama karena Brasil kekurangan bek sayap kelas dunia — ironis untuk negara yang pernah melahirkan Cafu, Roberto Carlos, dan Marcelo.
Vinicius Junior menjadi tumpuan utama. Pemilik nomor punggung 10 ini belum pernah tampil konsisten untuk Brasil — 47 pertandingan, delapan gol, dan tujuh assist — namun Ancelotti percaya bisa mengulang kesuksesan di Madrid. “Jika Vinicius fokus pada permainan, dia yang terbaik di dunia,” ujar Casemiro kepada surat kabar As pada 2025.
Neymar Masuk Skuad, Tapi Cedera Lagi
Keputusan memanggil Neymar mendominasi pemberitaan jelang pengumuman skuad. Pelatih akhirnya memasukkan pemain 34 tahun itu setelah melihat konsistensi dan kondisi fisiknya di Santos. Namun, cedera betis baru membuatnya tidak mungkin menjadi starter. “Kami sadar dalam periode terakhir dia punya kontinuitas dan kondisi fisik yang baik,” kata Ancelotti. Tanpa nomor sembilan murni, Brasil akan mengandalkan serangan balik cepat — persis seperti yang dilakukan Ancelotti di Madrid.
Endrick dan Gabriel Magalhaes: Harapan di Dua Kutub
Endrick menjadi kartu truf dari bangku cadangan. Dipinjamkan Lyon dari Real Madrid pada Januari, pemain 19 tahun itu mencatat 12 kontribusi gol dalam 17 laga Ligue 1. Saat melawan Kroasia di laga uji coba Maret lalu, ia masuk sebagai pemain pengganti dan menjadi motor kebangkilan Brasil dari tertinggal 1-0 menjadi menang 3-1.
Sementara itu, Gabriel Magalhaes dari Arsenal menjadi pahlawan yang jarang disorot. Bek tengah yang sudah mapan sebagai salah satu yang terbaik di dunia akan menjadi kunci jika Brasil ingin melaju jauh. “Saat bicara tim nasional Brasil, Anda harus bekerja setiap hari,” ujarnya.
Brasil akan memulai Piala Dunia 2026 pada 11 Juni. Ancelotti, yang genap 67 tahun sehari sebelum turnamen dimulai, tetap tenang. “Saya tidak terobsesi menang,” katanya kepada The Guardian. “Yang saya miliki adalah gairah untuk menikmati momen-momen yang diberikan sepak bola kepada saya.”