BALI — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berada di level 5.929,56 hingga pukul 09.09 WIB, naik 5,20 poin atau 0,088 persen dari penutupan pekan lalu di 5.924,36. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.936,88 pada awal perdagangan, lalu turun ke level terendah 5.898,15 sebelum kembali menguat.
Sektor Energi Menguat, BYAN dan PTRO Pimpin Kenaikan
Indeks sektor energi (IDX Energy) tercatat naik 0,29 persen ke level 2.738,81. Saham BYAN melesat 2,46 persen ke level 11.475, menjadi pendorong utama kenaikan sektor ini. PTRO juga menguat 1,03 persen ke level 3.910.
Penguatan juga terjadi pada saham Rukun Raharja (RAJA) yang naik 0,93 persen ke level 4.330, Golden Energy Mines (GEMS) menguat 0,78 persen ke level 6.425, dan Baramulti Suksessarana (BSSR) naik 0,48 persen ke level 4.180. Saham Paragon Karya Perkasa (PKPK) turut mendaki 0,31 persen ke level 3.190.
SURE Anjlok 8,48%, ADRO dan ITMG Ikut Tertekan
Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi sejumlah emiten energi. Saham Super Energy (SURE) menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 8,48 persen ke level 2.590. Alamtri Resources Indonesia (ADRO) melemah 2,09 persen ke level 2.340, disusul Transcoal Pacific (TCPI) yang turun 2,08 persen ke level 5.875.
Saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) terkoreksi 1,39 persen ke level 22.975, Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) turun 1,19 persen ke level 2.500, dan Bukit Asam (PTBA) melemah 0,84 persen ke level 2.360. Adaro Andalan Indonesia (AADI) dan Raharja Energi Cepu (RATU) masing-masing turun 0,61 persen dan 0,47 persen.
IHSG Masih di Bawah Level 6.000, Pelaku Pasar Wait and See
Meski mengawali pekan dengan penguatan, IHSG masih berkutat di bawah level psikologis 6.000. Pergerakan indeks yang volatil sejak awal sesi menunjukkan pelaku pasar masih mencermati sentimen global dan domestik, termasuk pergerakan harga komoditas energi.
Beberapa saham energi tercatat stagnan tanpa perubahan harga, seperti Prima Andalan Mandiri (MCOL) di level 3.690 dan ABM Investama (ABMM) di level 2.300. Kondisi ini menandakan investor cenderung menunggu kepastian arah pergerakan pasar sebelum melakukan akumulasi lebih lanjut.
Investasi mengandung risiko.