BALI — Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang ditetapkan Pertamina Patra Niaga pada Selasa malam (09/06) membuat harga Pertamax (RON 92) meloncat dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter. Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900/liter menjadi Rp17.000/liter. Dampaknya langsung terasa di kantong para pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup pada sepeda motor.
Bertahan dengan Pertamax: Pendapatan Bersih Tinggal Rp26.000 Sehari
Endro Andani Sianturi, kurir paket di Aceh, memilih bertahan dengan Pertamax. Alasannya bukan soal gengsi, melainkan efisiensi waktu. "Kalau Pertalite antreannya panjang kali, habis waktu untuk kejar target antar paket," katanya kepada BBC News Indonesia, Kamis (11/06).
Motor bebek matic 150 cc yang ia kendarai menghabiskan tiga liter Pertamax per hari. Namun, masalah muncul karena Pertamax di SPBU Aceh tak selalu tersedia. Endro terpaksa membeli eceran di pinggir jalan dengan harga Rp18.000/liter. Biaya bensin hariannya membengkak dari Rp39.000 menjadi Rp54.000.
Dengan upah Rp1.900 hingga Rp2.200 per paket, pemasukan kotor Endro hanya sekitar Rp80.000 per hari. Setelah dipotong bensin, sisa uang di kantongnya hanya Rp26.000. "Cuma cukup untuk makan," keluh perantau asal Sumatera Utara yang tinggal di kontrakan Rp7 juta per tahun ini. Ia bahkan sudah berhenti mengajak anaknya jalan-jalan sore demi menekan pengeluaran.
Beralih ke Pertalite: Lebih Irit Rp105 Ribu per Minggu
Keputusan berbeda diambil Nur Endah, pengemudi ojek online di Bandung. Rabu pagi (10/06), ia kaget melihat plang harga Pertamax yang baru. "Ya Allah, cobaan apa ini," ujarnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil barisan untuk mengisi Pertalite.
Perhitungannya sederhana. Sebelumnya, ia mengeluarkan Rp350.000 per minggu untuk Pertamax. Kini dengan Pertalite yang masih Rp10.000 per liter, biaya mingguannya turun menjadi Rp245.000. "Jauh pisan, jomplangnya. Rp105 ribu kalau bisa ditabung," kata perempuan yang sudah empat tahun menjadi ojol ini.
Meski lebih hemat, perpindahan massal ke Pertalite bukan tanpa risiko. BBM subsidi ini tidak cocok untuk mesin dengan rasio kompresi tinggi. Jika dipaksakan dalam jangka panjang, bisa memicu kerusakan mesin—sementara harga suku cadang motor disebut-sebut sudah naik hingga 30%.
Ancaman Antrean Panjang dan Tekanan APBN
Analis memperingatkan disparitas harga yang lebar—Pertalite Rp10.000 versus Pertamax Rp16.250—akan memicu gelombang migrasi besar-besaran. Akibatnya, antrean panjang di SPBU dan potensi kelangkaan Pertalite menjadi ancaman nyata yang pada akhirnya menambah beban subsidi APBN.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah menggodok sejumlah rencana untuk menjaga daya beli masyarakat, namun memastikan harga BBM subsidi tidak akan ikut naik. Sementara itu, Pertamina Patra Niaga menyebut penyesuaian harga ini "dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian."