BADUNG — Studi komparasi yang dilakukan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) serta Kesbangpol Kabupaten Badung ke Blitar dan Surabaya difokuskan pada penguatan sistem pangan lokal. Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk mempercepat visi Badung yang berdaulat pangan dan berdikari.
Dalam kunjungan tersebut, kedua daerah tujuan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan rantai pasok pangan dari hulu ke hilir. Mulai dari pendampingan petani, pengolahan hasil, hingga strategi pemasaran produk unggulan daerah.
Apa Saja yang Dipelajari dari Blitar dan Surabaya?
Pemerintah Kabupaten Badung menggali sejumlah praktik terbaik dari Blitar dan Surabaya. Fokus utamanya adalah pada mekanisme kerja sama antardaerah yang sudah berjalan di Jawa Timur.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas pasar, menjaga kualitas produk, serta memperkuat rantai distribusi sehingga memberikan manfaat optimal bagi kedua daerah.
Bagaimana Dampaknya bagi Petani dan Pelaku UMKM di Badung?
Hasil studi komparasi ini rencananya akan diadaptasi untuk memperkuat sektor pangan di Badung. Langkah ini dinilai krusial mengingat Badung sebagai daerah pariwisata memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan pangan dari luar.
Dengan sistem distribusi yang lebih kuat, petani dan pelaku UMKM lokal di Badung diharapkan bisa mendapatkan akses pasar yang lebih luas. Kualitas produk pun bisa terjaga karena ada standar yang diterapkan sejak proses produksi.
Kapan Strategi Baru Ini Mulai Diterapkan?
Pemkab Badung belum merinci jadwal pasti implementasi hasil studi komparasi. Namun, sejumlah rekomendasi dari kunjungan ke Blitar dan Surabaya akan segera dibahas dalam forum perencanaan daerah.
TP PKK dan Kesbangpol Badung akan menyusun laporan lengkap sebagai bahan evaluasi dan penyusunan program kerja sama ke depan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk mewujudkan kemandirian pangan secara bertahap.