BALI — Prime Intellect, startup yang menyediakan daya komputasi dan perangkat lunak khusus untuk membangun AI agent, berhasil mengamankan pendanaan Seri A senilai USD 130 juta. Valuasi perusahaan kini mencapai USD 1 miliar. Putaran investasi ini dipimpin oleh Radical Ventures, dengan dukungan dari Nvidia Ventures, Intel Capital, Dell Technologies Capital, dan Iconiq. Sejumlah pendiri perusahaan ternama seperti Aravind Srinivas (Perplexity), Aaron Levie (Box), dan Winston Weinberg (Harvey) juga turut serta sebagai angel investor.
Solusi untuk Risiko Ketergantungan pada AI Tertutup
Kekhawatiran perusahaan terhadap risiko berbagi data kepemilikan dengan penyedia AI seperti OpenAI dan Anthropic menjadi pendorong utama pertumbuhan Prime Intellect. Banyak perusahaan enggan memberikan informasi sensitif mereka ke pihak ketiga karena takut kehilangan kendali atas data. Mereka juga waspada terhadap ketergantungan pada model yang bisa tiba-tiba dihentikan, seperti yang terjadi pada model Fable milik Anthropic beberapa waktu lalu.
"How do I know that I’m not working with a company that is going to try to replace me and generalize to what I’m doing," ujar David Katz, partner di Radical Ventures. "All of these things are causing people to think, ‘How do I own my own enterprise intelligence and not have these risks’."
Platform "One-Stop Shop" untuk AI Agent
Didirikan pada 2024, Prime Intellect mengembangkan apa yang disebutnya sebagai "full stack" untuk pengembangan AI agent. Platform ini mencakup akses komputasi, kerangka kerja reinforcement learning, dan alat evaluasi. Alih-alih sistem kaku, platform ini berfungsi seperti pasar yang menyediakan akses modular sehingga pelanggan dapat memilih alat spesifik yang mereka butuhkan.
"They’ve stitched this together and built it in such a way that they’re operating at the frontier in a way that’s affordable," kata Katz. Ia menambahkan bahwa Prime Intellect unik karena menawarkan kemampuan laboratorium AI kelas atas sebagai "one-stop shop" untuk pengembangan.
Hasil Nyata dan Pertumbuhan Pendapatan
Pendekatan Prime Intellect telah menarik pelanggan seperti Ramp, Zapier, dan Flapping Airplanes yang membayar untuk versi hosted dari alat-alat tersebut. Adopsi yang cepat ini mendorong pendapatan tahunan perusahaan mencapai angka USD 100 juta.
Salah satu contoh nyata datang dari Ramp. Perusahaan fintech itu menggunakan Prime Intellect untuk membangun agen yang mencari jawaban di dalam spreadsheet. "The result beat the frontier models on accuracy while running at faster speeds and a fraction of the cost," kata Karim Atiyeh, salah satu pendiri dan co-CEO Ramp, dalam sebuah pernyataan.
Misi Demokratisasi AI
Prime Intellect percaya bahwa kemampuan untuk melatih model AI seharusnya tidak hanya dimiliki oleh segelintir perusahaan di Lembah Silikon. Co-founder dan CEO Vincent Weisser menegaskan bahwa perusahaannya menyediakan infrastruktur untuk memungkinkan transisi ini.
"It shouldn’t just be a few nerds in a glass tower in San Francisco that have the capability to train AI models," katanya kepada TechCrunch. "It should be every enterprise, every nation state."