BALI — Wearable seperti Apple Watch, Samsung Galaxy Watch, atau Garmin bekerja dengan merekam data biologis pengguna secara terus-menerus. Data ini mencakup detak jantung, suhu kulit, kualitas tidur, hingga tingkat oksigen dalam darah (SpO2). Selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, perangkat membangun pola dasar (baseline) yang unik untuk setiap pemakainya.
Lonjakan Detak Jantung di Malam Hari Bisa Jadi Alarm
Fungsi deteksi dini baru bekerja ketika wearable mencatat penyimpangan dari baseline tersebut. Misalnya, detak jantung istirahat (resting heart rate) seseorang tiba-tiba naik 10-15 bpm selama tiga malam berturut-turut tanpa alasan jelas seperti olahraga berat atau demam.
"Wearables are best at noticing breaks from your body's usual patterns," tulis laporan yang dijadikan bahan artikel ini. "Those outliers can hint that something warrants further investigation with your doctor." Artinya, penyimpangan itu bukan