BALI — Insiden ini bermula ketika Shirley Poullard menitipkan Kia Telluride generasi pertama miliknya ke dealer Kia of Lake Charles untuk perbaikan ban pecah. Namun, mobilnya dikabarkan tak kunjung selesai selama lebih dari sebulan dengan komunikasi yang minim dari pihak bengkel. Merasa curiga, Poullard memutuskan untuk datang langsung dan memeriksa kondisinya.
Betapa kagetnya ia saat menemukan kap mesin mobilnya terbuka dan bagian mesin justru dalam kondisi "terbongkar", padahal perbaikan yang diminta hanya berkaitan dengan ban. Poullard pun langsung merekam situasi tersebut dengan ponselnya.
Pengakuan di Depan Kamera: Hanya Sekadar "Meminjam" Dua Injektor
Awalnya, pihak bengkel sempat membantah telah melakukan tindakan yang tidak semestinya. Namun, setelah dihadapkan pada bukti dan pertanyaan langsung dari Poullard, sang service manager akhirnya mengakui perbuatannya di depan kamera. Ia menyebut tindakannya hanya sekadar meminjam dua injektor bahan bakar dari mobil Poullard untuk memperbaiki mobil pelanggan lain.
"The only thing we did was borrow two [fuel] injectors... We replaced them for free," demikian pernyataan yang terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial. Ironisnya, biaya penggantian injektor yang dianggap sepele itu ternyata tidak murah. Berdasarkan penelusuran cepat, satu buah injektor untuk Kia Telluride dibanderol sekitar USD 421 atau setara lebih dari Rp 6,7 juta (kurs Rp 16.000).
Setelah video tersebut menyebar luas di komunitas Lake Charles dan platform media sosial lainnya, dealer langsung bergerak cepat. Pihak manajemen melakukan investigasi internal dan memutuskan untuk memberhentikan service manager yang bersangkutan dari pekerjaannya.
Permintaan Maaf Resmi Dealer dan Niat Poullard Menempuh Jalur Hukum
Di situs resmi dealer, sebuah pernyataan resmi kini muncul sebagai respons atas insiden tersebut. Manajemen menegaskan bahwa mereka menanggapi masukan pelanggan dengan serius dan langsung melakukan tinjauan internal. Hasilnya, karyawan yang terlibat sudah tidak lagi bekerja di perusahaan.
"Tim kami berpegang pada standar tinggi dalam hal perawatan pelanggan, profesionalisme, rasa hormat, dan kejujuran. Setiap pelanggan berhak diperlakukan dengan martabat, dan kami dengan tulus meminta maaf kepada pelanggan yang terlibat," demikian bunyi pernyataan yang ditampilkan di laman utama situs web dealer.
Meski mobilnya sudah dikembalikan dan injektor yang "dipinjam" telah diganti dengan yang baru secara gratis, Poullard mengaku tidak lagi merasa nyaman mengendarai Telluride-nya. Ia merasa tindakan tersebut adalah pencurian, dan menyayangkan apa jadinya jika ia tidak datang untuk memeriksa mobilnya sendiri.
"Mengambil sesuatu tanpa izin adalah mencuri. Kalau saya tidak datang ke sana, saya tidak akan pernah tahu. Kalian akan merakit mobil saya kembali dan berharap saya mengendarainya. Dan nanti kalau ada masalah, saya yang akan dipersalahkan," ujar Poullard kepada KPLC, seperti dikutip dalam pemberitaan.
Kekhawatiran Poullard memang masuk akal. Kepercayaan konsumen terhadap bengkel resmi, yang sudah rentan, kembali mendapat pukulan akibat ulah oknum semacam ini. Saat ini, Poullard dikabarkan sedang mencari pengacara untuk menempuh jalur hukum atas kejadian yang menimpanya.