Pencarian

Film "Celukan Bawang" Angkat Kisah Warga Pesisir Buleleng di Tengah Proyek Energi Bali

Minggu, 11 Oktober 2026 • 10:12:31 WIB
Film
Sutradara Rai Astrawan meluncurkan film dokumenter "Celukan Bawang" di Denpasar, Sabtu.

Sutradara Rai Astrawan meluncurkan film dokumenter "Celukan Bawang" yang mengangkat kehidupan warga pesisir Buleleng, Bali Utara, di tengah pembangunan infrastruktur energi. Film berdurasi 25 menit itu menyoroti hubungan warga dengan laut, perubahan sosial-ekologis, serta posisi desa tersebut dalam pemenuhan kebutuhan energi Bali. Peluncuran dan diskusi film digelar di Denpasar, Sabtu.

DENPASAR — Desa Celukan Bawang di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, dikenal sebagai kampung nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan laut. Selama beberapa tahun terakhir, desa itu berkembang menjadi salah satu kawasan penting pembangkitan energi di Bali melalui keberadaan PLTU Celukan Bawang I.

Rai Astrawan melihat ketimpangan perhatian terhadap desa tersebut. Ia menilai Celukan Bawang jarang diangkat dalam diskusi publik, padahal wilayah itu berperan vital dalam produksi energi yang dikonsumsi masyarakat Bali.

Mengapa Celukan Bawang Jarang Dibahas?

Rai mengatakan film ini berangkat dari kegelisahannya terhadap minimnya perhatian publik pada Celukan Bawang. Menurut dia, desa kecil nelayan itu memiliki posisi strategis yang tidak sebanding dengan liputan yang diterimanya.

"Secara garis besar, Celukan Bawang merupakan sebuah desa kecil nelayan yang selama ini tidak cukup diangkat, tetapi pada kenyataannya desa ini punya peran vital dalam produksi energi yang dikonsumsi oleh Bali itu sendiri," ujarnya saat ditemui dalam peluncuran dan diskusi film di Denpasar, Sabtu.

Gagasan pembuatan film muncul dari interaksi Rai dengan warga setempat. Ia mengaku telah lama menulis, memproduksi video, berinteraksi dengan nelayan, dan mengikuti berbagai kegiatan di Celukan Bawang.

Celukan Bawang sebagai Subjek, Bukan Latar

Rai menempatkan desa dan kehidupan warganya sebagai bagian utama cerita. Pendekatan itu dipilih agar Celukan Bawang tidak hanya tampil sebagai latar dari pembangunan infrastruktur energi.

Melalui film ini, ia ingin menunjukkan bahwa Celukan Bawang bukan sekadar kampung nelayan. Desa itu juga ruang hidup yang berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi di wilayah lain, termasuk kawasan yang menopang aktivitas ekonomi dan pariwisata Bali.

Masyarakat perlu melihat keterkaitan tersebut, kata Rai, agar tidak memandang Celukan Bawang hanya sebagai wilayah penghasil energi. Menurut dia, desa itu juga ruang hidup dengan persoalan sosial dan ekologis yang perlu diperhatikan.

Soal LNG dan Transparansi Komunikasi ke Warga

Dalam sinopsisnya, film ini menyoroti rencana pengembangan energi di kawasan tersebut melalui pemanfaatan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Rencana itu dikaitkan dengan ambisi mewujudkan kemandirian energi Bali.

Film menggambarkan kebutuhan energi sebagai elemen penting dalam pembangunan industri dan pariwisata Bali. Namun, pengembangan sumber energi juga berpotensi menimbulkan persoalan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah sasaran pembangunan.

Sinopsis film juga menyoroti persoalan transparansi komunikasi mengenai kebijakan pengembangan energi berbasis LNG kepada warga. Persoalan itu menjadi bagian dari kegelisahan yang hendak disampaikan melalui film.

Dokumenter ini mempertanyakan posisi Celukan Bawang dalam agenda pembangunan energi, terutama ketika kebutuhan memenuhi konsumsi energi berhadapan dengan keberlangsungan ruang hidup masyarakat pesisir.

Tantangan Produksi: Membangun Visual yang Belum Ada

Salah satu tantangan dalam proses produksi adalah belum terwujudnya pembangunan yang menjadi bagian dari isu yang diangkat. Kondisi itu membuat tim produksi harus mencari cara membangun visual mengenai sesuatu yang belum tersedia secara nyata.

"Karena belum terjadi proses pembangunan (pembangkitnya), sehingga kita perlu mengimajinasikan itu. Itu sih tantangannya, karena barangnya belum ada. Jadi kita harus mencari cara bagaimana menyusun visualnya," kata Rai.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Rai menyebut tanggapan masyarakat terhadap film ini sangat baik dan suportif.

Harapan: Membuka Diskusi Lebih Luas

Melalui "Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali", Rai berupaya menghadirkan potret kehidupan masyarakat pesisir yang berada di persimpangan antara kebutuhan energi, agenda pembangunan, dan keberlanjutan lingkungan.

Ia berharap film dokumenter ini menjadi media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan publik, termasuk kebijakan pembangunan dan energi.

Rai ingin penonton tidak hanya menerima pembangunan sebagai proses memenuhi kebutuhan energi. Ia mendorong sikap kritis terhadap dampak dan konsekuensinya bagi kehidupan warga.

Film berdurasi 25 menit ini diharapkan membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara konsumsi energi dan wilayah yang menjadi sumber pemenuhannya.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bali.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks