Pencarian

SpaceX Akuisisi Spektrum 800 MHz, Siap Jadi Operator Seluler Besar

Jumat, 09 Oktober 2026 • 15:32:31 WIB
SpaceX Akuisisi Spektrum 800 MHz, Siap Jadi Operator Seluler Besar
SpaceX resmi mengakuisisi portofolio spektrum 800 MHz milik Grain Management untuk memperkuat layanan Starlink Mobile.

BALI — SpaceX resmi mengakuisisi seluruh portofolio spektrum 800 MHz milik Grain Management untuk memperkuat layanan Starlink Mobile di Amerika Serikat. Spektrum low-band ini memungkinkan sinyal Starlink menembus dinding bangunan, sesuatu yang belum bisa dilakukan jaringan satelit generasi sebelumnya. Langkah ini menandai ambisi SpaceX menjadi operator seluler besar, bukan sekadar penyedia internet satelit.

Perusahaan antariksa milik Elon Musk itu menandatangani kesepakatan untuk mengambil alih 100 persen portofolio spektrum 800 MHz nasional milik Grain Management. Nilai transaksi tidak diungkap, tetapi akuisisi ini masih menunggu persetujuan Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC).

Portofolio yang diincar mencakup lisensi spektrum low-band hingga 14 megahertz pada band 800 MHz. Frekuensi inilah yang selama ini menjadi salah satu celah teknis terbesar bagi Starlink untuk bisa bersaing dengan operator seluler mapan di Negeri Paman Sam.

Mengapa Spektrum Low-Band Jadi Kunci

Operator seluler besar seperti Verizon dan T-Mobile sudah lama menguasai spektrum low-band karena karakternya yang mudah menembus dinding, pepohonan, dan bangunan. Sinyal satelit biasa sulit mencapai pengguna di dalam ruangan, sehingga layanan internet Starlink selama ini lebih cocok untuk area terbuka.

Dengan spektrum 800 MHz, Starlink Mobile bisa menjangkau pelanggan di dalam gedung tanpa perangkat tambahan. SpaceX menyebut mayoritas ponsel yang beredar saat ini sudah mendukung band tersebut, sehingga layanan mereka bisa langsung diakses jutaan calon pelanggan tanpa perlu ganti perangkat.

Kombinasi Satelit dan Terestrial Pertama

SpaceX mengklaim pihaknya akan menjadi operator jaringan pertama yang menggabungkan spektrum satelit dan terestrial dalam satu layanan. Kombinasi ini memungkinkan Starlink Mobile memberikan sinyal stabil di dalam ruangan, sementara jaringan satelitnya tetap menjangkau wilayah terpencil yang belum tersentuh infrastruktur seluler.

"Dengan spektrum low-band baru ini dan konstelasi Gen2 kami, Starlink Mobile kini bisa menjadi operator jaringan pertama yang menyebarkan spektrum satelit sekaligus terestrial," demikian pernyataan resmi SpaceX.

Dukungan Regulasi dan Konstelasi Gen2

FCC baru-baru ini memberi izin SpaceX untuk mengoperasikan 15.000 satelit Starlink Mobile Gen2 yang dioptimalkan untuk spektrum 2 GHz. Menurut perusahaan, satelit generasi baru ini mampu menghadirkan bandwidth lebih dari 100 kali lipat dibanding generasi saat ini.

Kapasitas tersebut membuka peluang layanan internet kecepatan tinggi menjangkau lebih banyak wilayah di berbagai belahan dunia. Sebelumnya, SpaceX juga sudah mengakuisisi lisensi spektrum dari EchoStar pada akhir tahun lalu, termasuk frekuensi yang dipakai untuk layanan nirkabel komersial di Amerika Serikat.

Posisi di Pasar Seluler Amerika

Langkah ini menempatkan SpaceX sebagai penantang baru operator besar seperti AT&T, Verizon, dan T-Mobile. Dengan spektrum low-band, Starlink Mobile berpotensi menawarkan alternatif yang lebih merata secara cakupan, terutama di daerah pedesaan yang sering jadi titik lemah operator konvensional.

Tantangannya tidak ringan. Operator mapan punya infrastruktur menara yang sudah terbangun puluhan tahun, sementara SpaceX masih bergantung pada kombinasi satelit dan spektrum terestrial yang baru mulai diintegrasikan.

Bagi pengguna di Amerika Serikat, kehadiran Starlink Mobile sebagai operator penuh bisa menambah pilihan paket data, khususnya bagi mereka yang tinggal di area sulit sinyal. Untuk pasar Indonesia, rencana ini masih jauh dari realisasi karena perlu persetujuan regulator setempat dan kesiapan ekosistem satelit di orbit regional.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks