BALI — Tiga peristiwa yang terjadi dalam waktu berdekatan di Bali menjadi sorotan nasional. Kasus pertama melibatkan seorang ibu penjahit yang diduga mengeluarkan ujaran rasis kepada pelanggan. Kedua, polemik dugaan diskriminasi terhadap peserta maraton warga negara asing. Ketiga, tewasnya seorang bapak di Buleleng yang diduga mencuri seekor ayam. Ketiganya memiliki benang merah: lemahnya kontrol sosial dan meningkatnya respons emosional di tengah masyarakat.
Peristiwa-peristiwa ini tidak boleh dipandang sebagai kebetulan semata. Ada dinamika sosial yang tengah berubah di balik citra Bali yang selama ini dikenal damai. Sosiolog Prancis Emile Durkheim menyebut kondisi ini sebagai anomie, yaitu keadaan ketika norma sosial melemah akibat perubahan yang berlangsung terlalu cepat.
Perubahan Struktur Sosial di Bali
Pertumbuhan sektor pariwisata yang pesat telah mengubah struktur sosial masyarakat Bali. Sebelum pandemi COVID-19, pulau ini menerima lebih dari 6 juta wisatawan mancanegara per tahun. Setelah terpukul pandemi, sektor tersebut kembali pulih dengan kunjungan wisatawan asing yang meningkat tajam sepanjang 2025 dan 2026.
Mobilitas penduduk dari berbagai daerah di Indonesia serta meningkatnya jumlah warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Bali turut membentuk masyarakat yang jauh lebih kompleks. Perubahan ini membawa manfaat ekonomi besar, tetapi juga memunculkan kompetisi baru atas ruang hidup, kesempatan kerja, harga tanah, hingga identitas budaya.
Modal Sosial yang Mulai Tergerus
Ilmuwan politik Amerika Robert D. Putnam menjelaskan bahwa masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi dan jaringan sosial yang kuat cenderung mampu menyelesaikan konflik secara damai. Sebaliknya, ketika kepercayaan sosial menurun, masyarakat lebih mudah curiga, cepat marah, dan sulit berdialog.
Bali sejatinya memiliki modal sosial besar melalui sistem desa adat, nilai Tri Hana Karana, tradisi banjar, dan budaya musyawarah. Namun, modal sosial bukanlah sesuatu yang permanen. Ketika tekanan ekonomi meningkat, ketimpangan melebar, dan interaksi lebih banyak berlangsung di media sosial, modal sosial perlahan mengalami erosi.
Mengapa Kekerasan Massa Bisa Terjadi?
Psikolog sosial Philip Zimbardo menjelaskan melalui teori deindividuation bahwa seseorang dalam kerumunan cenderung kehilangan identitas individual dan rasa tanggung jawab pribadi. Fenomena ini menjelaskan mengapa kekerasan massa bisa terjadi terhadap seseorang yang dituduh melakukan tindak pidana, termasuk dalam kasus pencurian bernilai kecil.
Kasus dugaan ujaran rasis dan diskriminasi terhadap warga negara asing menunjukkan hubungan antara masyarakat lokal dan komunitas global semakin kompleks. Bali menikmati manfaat ekonomi dari wisata internasional, tetapi juga menghadapi tantangan berupa kompetisi ekonomi, perubahan demografi, dan perbedaan budaya.
Tentu keliru jika seluruh masyarakat Bali dicap intoleran atau brutal. Generalisasi semacam itu justru berbahaya. Namun, rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat bahwa harmoni sosial harus terus dirawat, bukan sekadar warisan yang otomatis bertahan.