KARANGASEM — Di balik tembok tinggi LPKA Kelas IIB Karangasem, anak-anak binaan menjalani rutinitas yang tak jauh berbeda dengan remaja seusianya. Mereka berseragam, mengikuti pelajaran, dan bercita-cita menjadi barista atau tukang cukur begitu bebas nanti.
Kepala Seksi Pembinaan LPKA Kelas IIB Karangasem, Putu Yogi Hithawati, mengatakan setiap anak yang baru masuk langsung diperiksa kesehatannya di klinik lembaga. Setelah itu, mereka diberikan perlengkapan, termasuk seragam sekolah dan olahraga.
“Pakaian dari luar dibatasi hanya satu sampai dua stel karena kebutuhan seperti seragam olahraga dan seragam sekolah sudah kami sediakan,” ujarnya.
Pendidikan Wajib, Termasuk bagi yang Buta Huruf
Pendidikan menjadi program utama selama masa pembinaan. Anak yang sebelumnya putus sekolah diwajibkan mengikuti program Kejar Paket sesuai jenjang masing-masing. Proses belajar dilakukan dua kali sepekan dengan guru yang didatangkan ke LPKA.
“Ada yang sudah lulus SD tetapi belum bisa membaca. Kami terus melakukan pendekatan hingga mereka mau kembali belajar,” kata Yogi.
Saat ujian tiba, anak-anak binaan dikawal menuju Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) setempat. Tahun 2026, pihaknya menargetkan anak-anak binaan mampu meraih prestasi akademik sebagai bukti bahwa mereka tetap punya kesempatan berkembang.
Keterampilan Kerja Terbentur Peralatan
LPKA juga mendata minat dan bakat setiap anak sejak awal masuk. Sejumlah anak bercita-cita menjadi barista, sementara lainnya ingin menjadi tukang cukur. Namun, pengembangan keterampilan itu belum maksimal.
“Kami belum memiliki peralatan yang memadai untuk mendukung pelatihan tersebut. Saat ini yang rutin baru kegiatan berkebun dengan bibit yang kami siapkan sendiri,” jelas Yogi.
Ia mengungkapkan, sebenarnya ada yayasan yang siap memberikan pelatihan barista secara gratis. Program itu belum berjalan lantaran LPKA belum memiliki mesin kopi dan perlengkapan praktik.
“Yayasannya sudah siap mengajar, tetapi untuk belajar menjadi barista tentu membutuhkan mesin dan perlengkapan lainnya. Kami berharap ada dukungan dari dinas terkait agar pelatihan keterampilan bisa lebih lengkap,” harapnya.
Anak Binaan yang Bebas Kini Bekerja di Sektor Kuliner
Meski dengan keterbatasan, hasil pembinaan mulai terlihat. Sejumlah anak yang telah bebas mampu kembali berbaur di tengah masyarakat. Bahkan, beberapa di antaranya sudah bekerja di sektor kuliner.
“Beberapa anak yang sudah bebas saya ajak bekerja di usaha kuliner yang saya miliki di Denpasar. Mereka benar-benar berubah dan mampu menjalani kehidupan dengan baik,” tutur Yogi.
Menurutnya, masa pembinaan bukan akhir perjalanan pendidikan anak. Setelah bebas, mereka tetap bisa melanjutkan sekolah formal. Bagi yang berasal dari keluarga kurang mampu, tersedia peluang memperoleh beasiswa pendidikan.
“Setelah keluar mereka bisa kembali bersekolah seperti anak-anak lainnya. Bagi yang memenuhi syarat juga ada kesempatan memperoleh beasiswa agar tetap dapat melanjutkan pendidikan,” tandasnya.