DENPASAR — Lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan akan kembali memenuhi area UPTD Taman Budaya Provinsi Bali pada 11-16 September 2026. Utsawa Dharmagita (UDG) XXXIII tahun ini mengusung semangat lebih dari sekadar perlombaan, melainkan sebagai denyut nadi pelestarian sastra keagamaan Hindu di tengah arus modernitas.
Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., menegaskan bahwa event ini adalah bagian dari penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana itu menyebut ajang ini menjadi ruang pelestarian tradisi lisan sekaligus penguatan nilai agama, seni, sastra, dan karakter generasi muda.
Akar Tradisi dalam Setiap Lantunan Suci
Dalam kehidupan keagamaan umat Hindu di Bali, dharmagita memiliki posisi vital. Nyanyian suci ini hampir selalu hadir dalam pelaksanaan upacara yadnya dan menjadi sarana kirtanam—memuja serta mengagungkan Tuhan melalui suara. Lebih dari sekadar seni vokal, di dalamnya terkandung nilai etika, sradha, bhakti, serta ajaran moral yang diwariskan lewat sastra keagamaan.
Kemampuan melantunkan tembang secara tepat hanyalah satu bagian kecil. Tradisi ini merupakan cara masyarakat Bali mewariskan pengetahuan dan nilai spiritual dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semangat inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan UDG XXXIII, sebagaimana disampaikan Alit Suryana.
Penyelenggaraan tahun ini juga sejalan dengan amanat Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali. Regulasi tersebut memberikan perhatian khusus terhadap berbagai bentuk warisan budaya seperti sloka, palawakya, gaguritan, kakawin, kidung, dan dharmawacana.
Dari Anak-Anak hingga Dewasa: Siapa Saja yang Berlaga?
UDG XXXIII melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Mereka datang dari kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Sebelum berkompetisi, para peserta menjalani proses pembinaan dan latihan agar mampu memahami isi serta makna dharmagita yang dibawakan, bukan sekadar menghafal nada.
Keragaman kategori yang dilombakan memperlihatkan luasnya tradisi ini. Materi lomba mencakup membaca sloka, palawakya, kakawin, kidung, nyanyian keagamaan Hindu, gaguritan, dharmawacana Bahasa Bali, dharmawacana Bahasa Inggris, menghafal sloka, dharmawiwada, dan dharmacarita.
Anak-anak dapat mulai mengenal sastra dan nyanyian keagamaan sejak dini. Sementara remaja dan orang dewasa mendapat kesempatan mengembangkan kemampuan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap tradisi yang mereka warisi.
Bukan Hanya Lomba: Ada Seminar dan Kolaborasi Seni
Inovasi hadir dalam pelaksanaan UDG tahun ini. Sebuah seminar dharmagita akan digelar pada 15 September 2026, menjadi pembeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Seminar ini menghadirkan narasumber berkompeten untuk membahas nilai dan peran dharmagita secara lebih mendalam, membuka ruang dialog publik tentang masa depan tradisi ini.
Rangkaian acara juga dimeriahkan sasolahan yang dipersembahkan Sanggar Seni KOKAR pada pembukaan 11 September. Pertunjukan tersebut menegaskan bahwa UDG berada dalam ekosistem seni dan budaya Bali yang lebih luas, bukan kegiatan yang berdiri sendiri.
Kolaborasi kembali terjadi pada 15 September bersama UPTD Taman Budaya Provinsi Bali. Pertunjukan dikemas dalam perpaduan drama, tari klasik Bali, dan iringan tabuh atau gamelan Bali—sebuah ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas pertunjukan kontemporer.
Menuju Panggung Nasional di Palu
Proses penilaian dilakukan dewan juri dengan mengedepankan objektivitas dan ketentuan yang telah ditetapkan. Mereka yang keluar sebagai pemenang akan dipersiapkan menjadi wakil Provinsi Bali pada Utsawa Dharmagita tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 di Palu, Sulawesi Tengah.
Perjumpaan antarpeserta dari berbagai daerah di Taman Budaya menjadikan lokasi ini bukan hanya arena perlombaan. Tempat tersebut menjelma menjadi ruang perjumpaan antargenerasi dan komunitas budaya, tempat tradisi lisan Bali terus dihidupkan di ruang publik.