DENPASAR — PT Pintu Kemana Saja (PINTU) melaporkan minat investor ritel Indonesia terhadap saham dan Exchange Traded-Fund (ETF) Amerika Serikat tertokenisasi terus naik sepanjang kuartal III-2026. Perusahaan menyebut empat aset tertokenisasi mencatat kenaikan jumlah pembeli signifikan, dipimpin Nvidia (NVDAX) yang melesat 224%.
Setelah Nvidia, Apple (AAPLX) naik 212%, Alphabet (GOOGLX) tumbuh 131%, dan Robinhood (HOODX) meningkat 118%. Dari sisi volume trading, Meta (METAX) mencatat kenaikan lebih dari 230%.
“Kuartal III-2026 menunjukkan positifnya perdagangan aset tertokenisasi di platform PINTU. Pertumbuhan ini menandakan pengguna platform PINTU semakin aktif mengikuti perkembangan perusahaan teknologi global dan memperluas pilihan aset untuk membangun portofolionya,” ujar Presiden Direktur PINTU, Andy Putra.
Diversifikasi ke Emas dan ETF Asia
Andy menyebut pengguna mulai memakai aset tertokenisasi untuk diversifikasi, bukan sekadar mengejar tren saham teknologi. Jumlah pembeli SPDR Gold ETF naik lebih dari 170% pada kuartal III-2026.
“Jumlah pembeli SPDR Gold ETF juga turut naik lebih dari 170% pada kuartal III, yang menunjukkan ketertarikan pengguna terhadap eksposur emas di dalam portofolio mereka. Karena itu, kami akan terus memperluas pilihan aset agar pengguna platform PINTU dapat membangun portofolio yang lebih beragam langsung dari satu aplikasi,” imbuhnya.
Per Oktober 2026, PINTU telah menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi yang mencakup saham AS, ETF, dan berbagai komoditas. Nilai transaksi terkecil dibuka mulai Rp11.000.
10 Aset Baru dari Ondo, Termasuk ETF Jepang-Korea-India
PINTU menambah 10 aset tertokenisasi baru yang diterbitkan Ondo, terdiri dari sembilan ETF dan saham Micron (MUon). Penambahan itu memperluas eksposur pengguna ke pasar Asia, sektor komoditas, dan instrumen pendapatan tetap.
Cakupannya meliputi ETF pasar Jepang, Korea Selatan, dan India, serta US Treasury bills jangka pendek bertenor 0–3 bulan. Untuk aset baru ini, pengguna dapat mulai bertransaksi dari Rp65.000, dengan MUon tersedia diperdagangkan 24/7, sementara sembilan ETF lainnya 24/5.
Tanpa Rekening Efek Luar Negeri, Pajak Final 0,21%
Andy menjelaskan saham dan ETF tertokenisasi merupakan representasi digital yang memberikan eksposur terhadap pergerakan harga aset dasarnya. Lewat PINTU, pengguna dapat membeli aset tersebut dalam pecahan kecil menggunakan Rupiah.
“Saham dan ETF tertokenisasi merupakan representasi digital yang memberikan eksposur terhadap pergerakan harga aset dasarnya. Melalui PINTU, pengguna dapat membeli aset tersebut dalam pecahan kecil (fraksional) menggunakan Rupiah, tanpa perlu membuka rekening di perusahaan efek luar negeri,” ujar Andy.
Waktu transaksi yang lebih panjang dibandingkan jam bursa reguler AS disebut memberi keleluasaan bagi investor Indonesia yang berada di zona waktu berbeda. Dari sisi pajak, Andy menyebut tarif final 0,21% membuat aset global lebih mudah dijangkau investor ritel, termasuk pemula.
Kapitalisasi Aset Tertokenisasi Global Tembus Rp708 Triliun
Secara global, tokenisasi aset dunia nyata (real world assets/RWA) berkembang seiring makin banyak penerbit dan institusi keuangan membawa saham, ETF, dan surat utang ke infrastruktur blockchain. Data RWA.xyz mencatat total kapitalisasi pasar aset tertokenisasi menembus 39,26 miliar dolar AS per 20 Oktober 2026, setara sekitar Rp708,64 triliun.
Andy menutup dengan imbauan agar investor mencermati karakteristik dan tingkat risiko masing-masing aset sebelum mengambil keputusan.
“Aset tertokenisasi menjadi tren positif yang membuka akses lebih luas bagi investor ritel terhadap instrumen investasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Meski demikian, setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Oleh karena itu, investor perlu melakukan riset secara menyeluruh, memahami profil risiko masing-masing, serta mempertimbangkan tujuan investasi sebelum mengambil keputusan, agar dapat berinvestasi secara bijak,” tutupnya.