BALI — Perencana Keuangan Advisors Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy menilai orang yang mudah panik tetap bisa berinvestasi saham asal dibekali pengetahuan dan strategi yang matang. Menurutnya, kepanikan di pasar fluktuatif umumnya muncul dari ketakutan berlebih dan minimnya pemahaman atas risiko. Investor pemula disarankan menyiapkan tujuan, porsi dana, hingga batas toleransi kerugian sebelum membeli saham.
Dandy menyampaikan pandangan tersebut kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (23/10), di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belum stabil. Pergerakan pasar yang cepat, kata dia, kerap memicu keputusan berbasis emosi ketimbang analisis.
Kepanikan bukan alasan untuk menjauh dari pasar saham. Dandy menegaskan investor dengan profil mudah cemas tetap punya ruang masuk, asalkan dibekali persiapan yang benar sejak awal.
"Memungkinkan banget buat orang yang gampang panikan, namun perlu handle dari segi pengetahuan dan psikologinya. Biasanya panik karena banyak ketakutan dan ketidaktahuan," ujar Dandy.
Lima Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Membeli Saham
Sebelum transaksi pertama, Dandy menyarankan investor pemula menetapkan rencana tertulis. Rencana ini berfungsi sebagai rambu saat pasar bergerak di luar ekspektasi.
Menurutnya, ada lima poin yang perlu diputuskan lebih dulu:
- Tujuan investasi dan jangka waktu pencapaiannya
- Batas kerugian yang siap ditanggung
- Porsi dana yang akan dialokasikan
- Kondisi yang memicu aksi beli, jual, atau pengurangan porsi
- Strategi yang dipakai, termasuk dollar cost averaging (DCA)
"Untuk awal siapkan tujuan investasi, berapa lama, berapa persen siap ruginya, porsi uang yang akan dialokasikan dan dalam kondisi seperti apa beli, jual, kurangi porsi, pertahankan atau harus jual semuanya," jelas Dandy.
DCA dinilai cocok bagi pemula karena memungkinkan pembelian saham secara bertahap dalam jangka panjang, sehingga harga perolehan tidak bergantung pada satu titik masuk. Porsi kecil di awal juga membatasi eksposur saat pasar bergejolak.
Keuangan Pribadi Harus Sehat Sebelum Masuk Pasar
Modal investasi bukan satu-satunya syarat. Dandy mengingatkan investor memastikan arus kas sehat, dana darurat cukup, dan proteksi sudah tersedia sebelum menempatkan uang di saham.
"Selain modal perlu siapkan cashflow yang memang sudah sehat, dana darurat yang cukup, proteksi, strategi dan pengetahuan. Pakai uang yang memang disiapkan untuk investasi, bukan uang untuk kebutuhan sehari-hari," kata Dandy.
Ia juga melarang investor memasukkan seluruh dana sekaligus. Porsi investasi harus disesuaikan dengan kemampuan finansial dan profil risiko masing-masing, bukan dengan besaran keuntungan yang dilihat di media sosial.
Pilih Saham Berfundamental, Hindari Gorengan
Untuk pemilihan saham, Dandy menyarankan investor memeriksa kemampuan perusahaan mencetak laba, perkembangan bisnis, dan kewajaran harga saham. Laporan keuangan yang profit dan bisnis yang tumbuh menjadi syarat dasar.
"Pertimbangannya punya fundamental yang bagus, apakah perusahaan bisnisnya untung atau enggak, laporan keuangannya profit, secara bisnis juga bagus dan berkembang dengan baik, secara harga saham masih belum terlalu mahal," ujarnya.
Pemula yang belum sanggup menganalisis emiten satu per satu bisa memilih saham yang sudah masuk indeks dengan proses penyaringan, seperti LQ45, IDX30, Kompas100, dan Value30. Indeks-indeks ini memuat emiten dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar tertentu sehingga risiko saham gorengan lebih kecil.
Bagi yang ingin analisis lebih teknis, valuasi serta kondisi bid dan offer saham bisa menjadi rujukan tambahan sebelum eksekusi.
FOMO Jadi Jebakan Paling Sering Menimpa Pemula
Dandy menyoroti fear of missing out (FOMO) sebagai pemicu keputusan emosional yang paling sering menimpa investor baru. Unggahan media sosial yang menampilkan keuntungan besar dari suatu saham, menurutnya, sering membuat orang ikut membeli tanpa analisis.
"Jangan sampai membuat keputusan investasi based on emosi," kata Dandy.
Ia menekankan investor perlu berpegang pada strategi yang sudah disusun dan tidak mengikuti keputusan orang lain hanya karena takut tertinggal. Pasar yang bergejolak, lanjut Dandy, justru menjadi momentum belajar memahami cara kerja investasi saham, bukan hanya saat IHSG sedang naik.
Bagi investor pemula, kombinasi rencana tertulis, keuangan yang sehat, dan pilihan saham berfundamental menjadi benteng utama agar tidak mengambil keputusan di tengah tekanan pasar.