DENPASAR — Film "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" menjadi trigger refleksi kritis atas perampasan hak hidup masyarakat adat Marind, Yei, dan Muyu di Papua Selatan. Dokumenter investigatif karya jurnalis Dandhy Laksono dan antropolog Cypri Dale—diproduksi kolaboratif oleh Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Watchdoc, dan Jubi Media—mengekspos bagaimana ambisi pemerintah membangun food estate mengakibatkan kehancuran ekologi dan pelanggengan kolonialisme ekonomi di tanah Papua.
Program food estate dipresentasikan dalam film sebagai bagian dari naratif transisi energi, padahal, menurut kritik yang dikemukakan dalam diskusi, justru memicu ekstraktivisme baru. Ekspansi pertanian skala besar ini tidak hanya mengambil lahan adat, tetapi juga menciptakan ketimpangan ekonomi dan kerusakan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya.
Suriadi Darmoko, aktivis lingkungan 350.org Indonesia, menilai film ini dari sudut pandang transisi energi global. Menurutnya, transisi yang seharusnya berjalan tanpa menciptakan kerusakan baru telah dibajak oleh kekuatan oligarki pemerintahan.
"Idealnya transisi energi dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan baru dan tanpa menciptakan ketimpangan baru. Tetapi dalam film ini, jelas dan terang bahwa transisi energinya dibajak yang pada akhirnya menyebabkan ketimpangan dan