DENPASAR — Ketut Darmayasa, praktisi pariwisata dan tokoh masyarakat Bali, menyatakan penanganan sampah di Pulau Dewata telah memasuki fase darurat. Menurut dia, cara-cara konvensional yang sporadis tidak lagi memadai untuk mengatasi persoalan yang mengancam reputasi pariwisata global.
Darmayasa menawarkan peta jalan strategis melalui formula 4M dan integrasi BESTIE. Konsep ini ia sampaikan sebagai respons atas kondisi sampah yang dinilai sudah mencapai titik nadir.
Menurut Darmayasa, penyelesaian masalah sampah harus dimulai dari fondasi manajerial yang kuat. Formula 4M mencakup empat pilar utama.
Selain aspek manajerial, Darmayasa mengusulkan integrasi lintas sektor melalui konsep BESTIE. Konsep ini menggabungkan nilai budaya lokal, pendidikan, teknologi, hingga peran aktif semua pihak.
BESTIE merupakan akronim dari Bottom-up Cultural Value, Environmental Education, Technological Integration, Institutionalization, dan Elimination of Waste. Fokus utamanya adalah pengurangan sampah langsung dari sumbernya di hulu.
Satu hal yang menjadi sorotan tajam Darmayasa adalah perilaku fundamental masyarakat dalam membuang sampah. Ia menilai banyak pihak terlalu fokus pada wacana pemilahan, namun mengabaikan etika dasar.
“Mari kita belajar ‘Cara Membuang Sampah’ yang benar sebelum belajar memilah. Bagaimana mau memilah kalau cara membuangnya saja masih sembarangan? Kesadaran mendasar ini yang harus kita bangun kembali,” tegas Darmayasa, Kamis (14/5/2026).
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi pemangku kebijakan agar tidak hanya terjebak pada proyek infrastruktur hilir seperti tempat pembuangan akhir (TPA). Darmayasa menekankan perlunya penguatan pendanaan dan edukasi intensif di tingkat desa dan individu.