Dividen MYOH dan KINO Cair Juni, Yield Batu Bara vs FMCG Siap Diperebutkan Investor

Penulis: Usman Harun  •  Senin, 25 Mei 2026 | 18:21:01 WIB
MYOH dan KINO umumkan jadwal pencairan dividen Juni 2025 untuk pemegang saham.

BALI — Musim dividen tahun ini masih menyisakan kejutan bagi investor ritel. Dua emiten dari sektor berbeda, MYOH dan KINO, telah memastikan jadwal pencairan laba kepada pemegang saham pada bulan Juni. Keduanya datang dari industri yang kontras—jasa pertambangan batu bara versus barang konsumen cepat saji—namun sama-sama menunjukkan komitmen membagi keuntungan di tengah tekanan ekonomi global.

MYOH: Rekor Dividen Batu Bara yang Agresif

Bagi investor yang akrab dengan siklus komoditas, MYOH bukan nama asing. Emiten jasa kontraktor tambang ini menetapkan dividen Rp59,08 per saham untuk tahun buku 2025. Jika dilihat dari historis, angka ini masih di bawah rekor tertinggi Rp96,83 per saham yang dibagikan pada 2021—saat harga batu bara sedang melambung tinggi.

Namun, konsistensi MYOH membagi laba patut dicatat. Pada 2024, mereka menebar Rp22,29 per saham, sementara setahun sebelumnya Rp47,37 per saham. Fluktuasi ini wajar mengingat bisnis pengupasan lapisan tanah dan pengangkutan batu bara sangat bergantung pada volume produksi nasional. Jika produksi batu bara turun, pendapatan kontraktor ikut tertekan.

Jadwal pencairan MYOH: cum date pada 5 Juni 2025, ex date 10 Juni 2025, dan pembayaran pada 26 Juni 2025.

KINO: Kenaikan Dividen Jadi Sinyal Kuat Arus Kas

Berbeda dengan MYOH yang dividennya cenderung fluktuatif, KINO justru menunjukkan tren kenaikan. Tahun ini, emiten pemilik merek-merek FMCG seperti makanan, minuman, dan perawatan tubuh ini menetapkan dividen Rp45 per saham—tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2025 mereka membagikan Rp32 per saham, dan pada 2024 hanya Rp22 per saham.

Kenaikan ini dibaca pasar sebagai sinyal penguatan fundamental. KINO memiliki 19 merek yang tersebar di 16 kategori produk, termasuk usaha patungan dengan Morinaga & Company dari Jepang melalui PT Morinaga Kino Indonesia. Diversifikasi bisnis ini membuat KINO lebih tahan terhadap tekanan daya beli masyarakat dibanding emiten FMCG murni lainnya.

Jadwal pencairan KINO: cum date pada 3 Juni 2026, ex date 4 Juni 2026, dan pembayaran pada 24 Juni 2026.

Pemburu Yield Mulai Memetakan Posisi

Dengan jadwal cum date yang hanya berselisih beberapa hari, investor mulai membandingkan potensi imbal hasil kedua saham. MYOH menawarkan dividen lebih besar secara nominal, namun risikonya terkait siklus komoditas. Sementara KINO, dengan kenaikan dividen yang konsisten, dianggap lebih stabil meski nominalnya lebih kecil.

Pasar mencermati apakah MYOH mampu mempertahankan distribusi laba jika harga batu bara global mulai melemah dalam jangka panjang. Sebaliknya, KINO justru diuntungkan oleh karakter bisnis FMCG yang relatif defensif. Keputusan akhir tetap di tangan investor, bergantung pada profil risiko masing-masing.

Informasi ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan investasi.

Reporter: Usman Harun
Sumber: kabarbursa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top