DENPASAR — Oka Rusmini kembali menghadirkan karya yang tak sekadar urusan estetika. Melalui buku puisi Kembang, ia melakukan apa yang disebutnya sebagai “ekshumasi” atau penggalian kembali trauma sejarah yang mengendap dalam tubuh perempuan.
Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang bertumpu pada pemberontakan terhadap adat dan norma sosial—seperti Tarian Bumi (2000) atau Sagra (2001)—Kembang mengambil jalan yang lebih sunyi namun tak kalah tajam. Buku ini lahir dari perjumpaan emosional Oka dengan film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah, yang merekam keseharian Kusdalini (1943–2017) dan Kaminah (1947–2018), dua perempuan penyintas 1965 di Solo.
Mengapa Perempuan Penyintas 1965 Butuh Pendekatan Berbeda?
Oka memandang sejarah Indonesia sebagai ruang patriarkis yang kerap menghilangkan pengalaman perempuan. Menurutnya, penyintas laki-laki umumnya mengalami represi politik dan fisik, sementara perempuan menghadapi trauma berlapis: penyiksaan fisik sekaligus kekerasan seksual.
“Bagi mereka, membicarakan peristiwa 1965 berarti membangkitkan kembali ingatan tentang penghancuran martabat,” tulis Oka dalam catatan kreatifnya. Beban moralitas yang dikonstruksi masyarakat memaksa para penyintas bergeser ke ranah domestik, memastikan anak-anak dan keluarga memperoleh identitas yang “aman” dari stigma.
“Mistisisme-Domestik”: Strategi Estetik yang Membenturkan Keindahan dan Kematian
Secara estetik, Kembang menawarkan langgam baru yang oleh Oka dinamai “Mistisisme-Domestik”. Gaya ini mengawinkan diksi arkais yang magis dengan realitas ruang domestik yang amis sekaligus brutal—seperti bau ompol, aroma soto panas, kerupuk, param, dan tubuh yang mulai sakit-sakitan.
Oka secara sadar membenturkan keindahan bunga—kenanga, melati, dan mawar—dengan anyir darah dan kesepian. Peleburan ini dirancang untuk memicu guncangan batin antara wangi keindahan dan kematian.
Mirna Yulistianti, Editor Senior Gramedia Pustaka Utama, menilai karya ini sebagai pencapaian yang sangat arsitektural. “Oka memperlakukan teks layaknya bangunan presisi yang dirancang dengan tata ruang bahasa yang efisien, fondasi mitologi dan budaya yang kukuh, serta struktur elemen yang saling mengunci secara fungsional,” ujarnya.
Tipografi Huruf Kecil: Strategi Dekonstruktif untuk Aliran Kesadaran
Sebagai strategi dekonstruktif, Oka menggunakan tipografi huruf kecil (all lowercase) secara menyeluruh dalam Kembang. Keputusan ini bukan sekadar gaya visual, melainkan taktik untuk memberi ruang bagi aliran kesadaran (stream of consciousness) yang jujur, telanjang, dan demokratis.
“Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param, dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah,” ungkap Oka.
Mengapa Berjudul “Kembang”? Ironi di Balik Kelembutan
Judul Kembang merupakan ironi yang tajam. Sesuatu yang lazim diidentikkan dengan kelembutan, di tangan Oka bertransformasi menjadi simbol ketangguhan. Kembang menjadi metafora bagi perempuan yang tetap tumbuh dan merekah di atas retakan sejarah yang kelam, meski dipaksa hidup dalam sunyi, stigma, dan penghapusan identitas.
Melalui Kembang, Oka Rusmini merebut kembali kedaulatan memori yang disenyapkan sekaligus membuktikan bahwa sastra dapat menjadi instrumen keadilan. Ketika pengadilan hukum formal kerap menemui jalan buntu, buku ini menawarkan rekonsiliasi melalui ingatan yang diarsipkan dalam puisi.