DBD di Bali Tembus 1.167 Kasus, 2 Pasien Meninggal; Gianyar Jadi Zona Paling Rawan di 2026

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 18:58:39 WIB
Kasus DBD di Bali mencapai 1.167 dengan dua pasien meninggal hingga Mei 2026.

GIANYAR — Angka kasus Demam Berdarah Dengue di Provinsi Bali belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali per pertengahan Mei 2026 mencatat total 1.167 warga terinfeksi, dengan dua pasien meninggal dunia di Buleleng dan Denpasar.

Kabupaten Gianyar kini berstatus zona paling rawan dengan 285 kasus. Disusul Badung (232 kasus), Karangasem (148 kasus), dan Buleleng (131 kasus). Denpasar sebagai ibu kota provinsi mencatat 119 kasus, sementara Jembrana menjadi wilayah dengan kasus terendah yakni 9 kasus.

Fluktuasi Kasus Sepanjang 2026: Januari hingga April

Data bulanan menunjukkan pergerakan kasus yang cukup konstan di angka tinggi. Januari dibuka dengan 281 kasus, Februari sedikit melandai ke 277 kasus, dan Maret menyentuh 246 kasus.

Memasuki April, kurva kembali merangkak naik ke angka 264 kasus. Dua fatalitas terjadi di Buleleng dan Denpasar, masing-masing satu jiwa.

Langkah Pemprov: Fogging Selektif dan Peringatan Dini Berbasis Cuaca

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran dinkes di kabupaten dan kota untuk memperketat deteksi dini. Tujuannya menghindari status Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Kami juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pengendalian dengue melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M-Plus secara berkesinambungan,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).

Fogging massal baru akan dilakukan secara selektif jika indikator penularan di suatu wilayah terbukti krusial. Sebagai langkah inovatif, Dinkes Bali kini menggandeng Stasiun Klimatologi BMKG untuk merancang sistem peringatan berbasis cuaca guna memproyeksikan potensi wabah di masa depan.

CSR “Bebas Nyamuk” Fokus di Tiga Kabupaten dengan Kasus Tertinggi

Sinergi dengan sektor swasta juga diperkuat melalui program CSR bertajuk “Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat & Bebas Gerak”. Program ini saat ini difokuskan pada tiga wilayah dengan eskalasi kasus tertinggi: Gianyar, Badung, dan Denpasar.

Penyelidikan epidemiologi terus dilakukan di lapangan untuk memetakan titik-titik penularan aktif. Warga diimbau untuk rutin menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.

FAQ: Pertanyaan Warga soal DBD di Bali

Apa saja gejala DBD yang harus diwaspadai?

Demam tinggi mendadak selama 2–7 hari, nyeri otot dan sendi, sakit kepala berat, serta muncul bintik merah di kulit. Jika tidak segera ditangani, risiko syok dan kematian meningkat.

Apakah fogging efektif mencegah penyebaran DBD?

Fogging hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa dalam waktu singkat. Pencegahan utama tetap pada PSN 3M-Plus dan menghindari gigitan nyamuk.

Kapan kasus DBD di Bali diperkirakan menurun?

Biasanya kasus menurun saat musim kemarau, namun karena fluktuasi cuaca ekstrem, potensi penularan masih bisa terjadi. Sistem peringatan dini BMKG diharapkan membantu prediksi yang lebih akurat.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: bali.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top