TABANAN — Sepinya kunjungan ke DTW Jatiluwih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pengelola dan pelaku pariwisata di kawasan tersebut. Padahal, Jatiluwih dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan Bali dengan panorama sawah terasering yang diakui UNESCO.
Pihak pengelola DTW Jatiluwih mengidentifikasi dua faktor utama yang membuat jumlah wisatawan belum pulih. Pertama, ketegangan geopolitik global yang membuat calon wisatawan asing menunda perjalanan jarak jauh. Kedua, harga tiket pesawat yang belum kembali ke level sebelum pandemi, terutama untuk rute internasional.
“Kondisi ini sangat terasa. Padahal kami sudah siap menerima tamu, tapi okupansi masih jauh dari harapan,” ujar salah satu pengelola di lokasi.
Sepinya kunjungan langsung berdampak pada pendapatan para pemandu wisata lokal, pemilik warung makan, dan penyedia jasa foto di area persawahan. Sebagian besar dari mereka mengaku omzet turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Beberapa pemilik warung bahkan memilih buka lebih siang atau tutup lebih awal karena minimnya pembeli. Kondisi ini diperparah dengan masih adanya biaya operasional yang tetap harus dikeluarkan.
Untuk menarik minat wisatawan, pengelola DTW Jatiluwih telah melakukan berbagai upaya. Promosi melalui media sosial dan kerja sama dengan agen perjalanan terus digencarkan. Namun, hasilnya belum optimal karena faktor eksternal yang berada di luar kendali mereka.
“Kami berharap situasi global segera membaik. Jatiluwih tetap menjadi destinasi yang aman dan nyaman untuk dikunjungi,” tambahnya.
Meski lesu di pertengahan tahun, pengelola optimistis kunjungan akan kembali meningkat pada musim liburan akhir tahun. Mereka juga mendorong wisatawan domestik untuk lebih mengenal keindahan Jatiluwih sebagai alternatif destinasi.
Dengan harga tiket pesawat domestik yang relatif lebih stabil, segmen wisatawan nusantara dinilai menjadi harapan utama untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar di kawasan tersebut.
Jatiluwih menawarkan pengalaman unik berjalan di antara pematang sawah hijau dengan latar Gunung Batukaru. Sistem irigasi subak yang masih tradisional juga menjadi daya tarik budaya yang sulit ditemukan di tempat lain. Bagi wisatawan yang ingin suasana tenang dan pemandangan alam asri, Jatiluwih tetap menjadi pilihan tepat.
Pengelola memperkirakan pemulihan kunjungan baru akan terlihat signifikan pada kuartal keempat tahun 2026. Hal ini bergantung pada meredanya ketegangan global dan kembalinya harga tiket pesawat ke level yang lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.