Demam Babi Afrika Masuk Buleleng, Puluhan Ekor Babi Mati Mendadak di Tejakula, Peternak Waswas

Penulis: Xander Situmorang  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 19:03:16 WIB
Puluhan babi di Tejakula, Buleleng, mati mendadak akibat Demam Babi Afrika.

BULELENG — Wabah Demam Babi Afrika (ASF) kembali menyerang populasi ternak babi di Bali. Kali ini, penyakit mematikan tersebut terkonfirmasi masuk di wilayah Kabupaten Buleleng, tepatnya di Kecamatan Tejakula. Puluhan ekor babi dilaporkan mati secara mendadak dalam waktu singkat, memicu kekhawatiran di kalangan peternak.

Puluhan Ternak Mati dalam Waktu Berdekatan

Kasus pertama kali terdeteksi setelah sejumlah peternak melaporkan kematian ternak yang tidak wajar kepada Dinas Pertanian dan Peternakan Buleleng. Ciri-ciri khas ASF seperti demam tinggi, kulit kemerahan, dan pendarahan organ dalam ditemukan pada bangkai babi yang diperiksa.

“Kami sudah menerima laporan dan melakukan penanganan awal. Sampel telah diambil dan hasilnya positif ASF,” ujar seorang petugas dari Dinas Pertanian Buleleng. Hingga saat ini, belum ada angka pasti total kematian ternak karena proses pendataan masih berlangsung di lapangan.

Mengapa ASF Berbahaya bagi Peternak?

Penyakit ini tidak menular ke manusia, namun tingkat kematian pada babi bisa mencapai 100 persen. Belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah ASF, sehingga langkah paling ampuh adalah pemusnahan ternak yang terinfeksi dan penguncian area kandang.

Bagi peternak di Tejakula, wabah ini menjadi pukulan berat. Sebagian besar warga menggantungkan hidup pada usaha ternak babi skala kecil hingga menengah. Jika penyebaran tidak dikendalikan, kerugian ekonomi bisa meluas ke pasar babi di Buleleng dan sekitarnya.

Apa Langkah Pemkab Buleleng Selanjutnya?

Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pertanian langsung menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan disinfeksi kandang dan sosialisasi kepada peternak. Peternak diminta tidak menjual atau memindahkan babi keluar dari zona terinfeksi tanpa izin.

Selain itu, pengawasan lalu lintas ternak di perbatasan kecamatan diperketat. Pemkab juga mengaktifkan posko pengaduan bagi peternak yang ternaknya menunjukkan gejala sakit. Langkah ini untuk mencegah ASF menyebar ke kecamatan lain di Buleleng yang merupakan salah satu sentra peternakan babi di Bali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang ASF di Buleleng?

Apakah daging babi yang mati karena ASF aman dikonsumsi?
Tidak. Daging babi yang terinfeksi ASF tidak boleh dikonsumsi karena berisiko menyebarkan virus ke ternak lain. Pemkab mengimbau peternak untuk tidak menjual bangkai babi ke pasar.

Berapa lama virus ASF bertahan di lingkungan?
Virus ASF sangat tahan lama dan bisa bertahan berhari-hari hingga berminggu-minggu di kandang, pakan, atau peralatan yang terkontaminasi. Disinfeksi menyeluruh menjadi kunci utama pemutusan rantai penularan.

Apakah ada kompensasi bagi peternak yang ternaknya dimusnahkan?
Pemerintah daerah tengah mengkaji skema bantuan bagi peternak terdampak. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian nominal atau mekanisme pencairan kompensasi.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: radarbadung.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top