BALI — Kedatangan skuad Iran di Bandara Tijuana berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat keamanan Meksiko. Hanya segelintir suporter yang mengibarkan bendera Iran terlihat menyambut dari kejauhan. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia 2026 dimulai pada Kamis (19/6) mendatang.
Ghalenoei melontarkan kritik pedas terkait penundaan visa yang dialami timnya. “Kami seharusnya sudah berada di sini minggu lalu karena perbedaan waktu 12 jam membutuhkan dua minggu penyesuaian,” ujarnya di bandara.
“Biasanya di turnamen seperti ini, sebelum urusan teknis, pertimbangan etis dan kemanusiaan harus dihormati. Saya rasa hal itu tidak terjadi pada kami,” tambah sang pelatih. Meski berterima kasih kepada FIFA atas upaya membantu pengurusan izin masuk, Ghalenoei menegaskan timnya “kesal dengan perilaku ini” yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kapten tim, Ehsan Hajsafi, menyuarakan kekecewaannya langsung kepada FIFA. “Kenapa harus terlambat begini? Dalam setahun terakhir, kami mengalami dua perang yang dipaksakan di negara kami,” katanya. Hajsafi menegaskan tim tetap “100 persen siap” dan yakin bisa lolos dari fase grup.
Iran tergabung di Grup G bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Seluruh laga fase grup akan digelar di Amerika Serikat—Los Angeles pada 15 Juni dan 21 Juni, serta Seattle pada 26 Juni. Ini menjadi pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia putra, tim dari negara yang sedang berperang dengan tuan rumah tetap diizinkan bertanding.
Timnas Iran telah menjalani pemusatan latihan di Turki selama hampir tiga pekan. Selama di sana, mereka mengajukan visa untuk masuk ke Meksiko, Kanada, dan AS. Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, menyatakan para pemain baru menerima visa AS pada malam sebelum keberangkatan.
Namun, Kedutaan Besar Iran di Turki melaporkan visa untuk staf pendukung justru ditolak. Sebanyak 15 staf administrasi dan manajemen disebut terdampak, termasuk ketua federasi sepak bola Iran, Mehdi Taj. Federasi Iran menyebut keputusan ini sebagai “bentuk terburuk campur tangan politik dalam olahraga.”
Ketegangan bertambah ketika Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, mengungkapkan bahwa tim diwajibkan masuk dan keluar AS pada hari pertandingan yang sama. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim juru bicara tim, Amir Mahdi Alavi, yang mengatakan visa yang diterbitkan adalah visa masuk berganda.
Seorang pejabat administrasi AS enggan mengomentari langsung penolakan visa staf pendukung Iran. “Kami tidak akan membiarkan tim Iran menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke Amerika Serikat dengan dalih palsu,” ujarnya. Sementara itu, FIFA diharapkan dapat memberikan klarifikasi terkait aturan kehadiran ofisial tim di lokasi pertandingan.