Pencarian

22 Anak Difabel dari POTADS Bali Jadi Pendamping Pemain di Final Soekarno Cup, Kampanye Fair Play dari Stadion Ngurah Rai

Selasa, 26 Mei 2026 • 18:21:38 WIB
22 Anak Difabel dari POTADS Bali Jadi Pendamping Pemain di Final Soekarno Cup, Kampanye Fair Play dari Stadion Ngurah Rai
anak difabel dari POTADS Bali menjadi pendamping pemain di final Soekarno Cup di Stadion Ngurah Rai.

DENPASAR — Laga final antara Banteng Denpasar dan Banteng Badung di Stadion Ngurah Rai, Senin sore, menyuguhkan pemandangan yang tak biasa. Alih-alih hanya fokus pada duel di lapangan, ribuan pasang mata justru tertuju pada 22 anak difabel yang menggandeng tangan para pemain saat memasuki stadion.

Anak-anak itu berasal dari POTADS Bali, wadah orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dengan sindrom down. Mereka yang hadir berasal dari Denpasar, Badung, dan Tabanan. Sejak masuk ke lapangan, anak-anak itu tampak bahagia bisa merasakan langsung atmosfer turnamen yang digelar PDI Perjuangan.

Misi Global 'Say Yes for Children' Lewat Sepak Bola

Kehadiran anak-anak difabel sebagai player escort bukan sekadar seremoni. Tradisi ini mengadopsi kampanye global "Say Yes for Children" hasil kerja sama FIFA dan UNICEF, yang memanfaatkan popularitas sepak bola untuk mempromosikan perlindungan dan hak-hak anak di seluruh dunia.

PDI Perjuangan, mulai dari jajaran DPP hingga DPD Bali, menjadikan momen ini sebagai pengingat bahwa sepak bola adalah permainan suci, ramah keluarga, dan harus dijauhkan dari kekerasan atau rasisme. Anak-anak ini dinilai sebagai simbol kemurnian olahraga.

Sambutan dari Petinggi Partai hingga Ribuan Penonton

Anak-anak difabel mendapat sambutan hangat dari sejumlah petinggi partai yang hadir, di antaranya Muhammad Prananda Prabowo selaku Ketua DPP PDIP Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital, serta Komarudin Watubun dari Bidang Kehormatan. Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster, para kepala daerah, anggota legislatif, dan ribuan penonton yang memenuhi tribun juga ikut menyambut mereka.

Anak-anak itu berjalan menggandeng tangan pemain, tersenyum lebar, dan sesekali melambaikan tangan ke arah penonton. Suasana stadion yang biasanya riuh dengan yel-yel pendukung berubah menjadi haru dan hangat.

Liga Kampung Jadi Wadah Talenta Muda Bali

Ketua Panitia Liga Kampung Soekarno Cup Bali, Adi Arnawa, mengatakan turnamen ini telah menjadi wadah positif bagi generasi muda Bali yang memiliki bakat sepak bola. "Soekarno Cup ini menjadi wadah bagi talenta-talenta muda yang bisa bermain bola dalam kompetisi formal yang dilaksanakan oleh PDI Perjuangan," ungkapnya.

Menurut Adi, penyelenggaraan turnamen tersebut merupakan bentuk nyata komitmen partai dalam mendukung perkembangan olahraga, khususnya sepak bola usia dini dan muda di Bali. Semangat olahraga yang diwariskan Bung Karno, lanjutnya, menjadi inspirasi utama di balik ajang ini.

Di luar hasil pertandingan, kehadiran 22 anak difabel dari POTADS Bali menjadi cerita yang paling membekas di final kali ini. Mereka membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi ruang inklusif tanpa diskriminasi.

Bagikan
Sumber: kilasbali.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks