BALI — Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah memaksa Formula 1 bergerak cepat. Stefano Domenicali, CEO F1, secara terbuka menyatakan pihaknya tengah menyusun opsi alternatif untuk menggantikan Grand Prix Qatar (30 November) dan Grand Prix Abu Dhabi (7 Desember) jika situasi keamanan belum kondusif.
"Kami memiliki rencana kontingensi. Jika balapan di Qatar dan Abu Dhabi tidak bisa digelar, kami akan punya alternatif lain," ujar Domenicali dalam pernyataan yang dikutip media Inggris, Selasa (17/6).
Kekhawatiran ini muncul setelah dua seri awal musim, Bahrain dan Arab Saudi yang dijadwalkan April, sudah lebih dulu batal. Kalender F1 yang semula 24 seri kini terancam menyusut drastis menjadi 20 balapan.
Las Vegas Bukan Penutup Musim
Domenicali menegaskan bahwa Grand Prix Las Vegas yang dihelat pada 23 November tidak akan menjadi balapan pamungkas. Namun, ia tidak menutup kemungkinan sirkuit jalan raya di Nevada itu menggelar dua balapan dalam akhir pekan terakhir jika opsi lain tak tersedia.
Pertanyaan besarnya: ke mana F1 akan melaju pada 29 November dan 6 Desember? Mengingat kondisi geografis dan iklim, pilihan yang tersedia sangat terbatas.
Kembali ke Amerika atau Eropa?
Opsi paling realistis adalah kembali ke Amerika Utara. Circuit of the Americas (COTA) di Austin, Texas, menjadi kandidat kuat karena cuaca masih bersahabat di akhir November. Namun, Austin baru saja menjadi tuan rumah Grand Prix AS pada 25 Oktober — hanya berselang lima pekan. Pertanyaan soal penjualan tiket dan kesiapan logistik menjadi ganjalan.
Miami juga masuk pertimbangan, meski rumit. Hard Rock Stadium sudah dipesan oleh tim NFL Dolphins pada 29 November dan 13 Desember, menyisakan hanya tanggal 6 Desember sebagai celah sempit. Secara logistik, kemungkinan itu dinilai sangat kecil.
Kota Meksiko juga disebut, tapi jadwalnya berdekatan dengan Austin: Grand Prix Meksiko pada 1 November. Waktu persiapan yang sempit menjadi kendala serupa.
Eropa Hanya Tinggal Dua Nama
Di Eropa, sebagian besar sirkuit sudah tidak memungkinkan karena cuaca dingin ekstrem. Pengecualian hanya untuk Portimão (Portugal) dan Istanbul (Turki). Kedua sirkuit ini sudah terbukti menjadi penyelamat saat pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021.
Namun, risiko cuaca tetap tinggi. Suhu di Kanada beberapa hari lalu sempat menyentuh 11 derajat Celsius, disertai hujan yang konstan. Kondisi serupa bisa terjadi di Portugal dan Turki pada Desember.
Asia Hanya Tinggal Kuala Lumpur
Cuaca dingin dan salju secara definitif mengesampingkan opsi kembali ke Jepang (Suzuka) atau China (Shanghai). Satu-satunya nama yang layak di Asia Timur Jauh hanyalah Sirkuit Internasional Sepang, Kuala Lumpur. Sayangnya, Malaysia sudah sembilan tahun absen dari kalender F1, meski rumor kembalinya sempat mencuat beberapa kali.
Hingga kini, F1 masih menunggu perkembangan gencatan senjata antara Iran dan AS yang disebut rapuh. Namun, Domenicali menegaskan tidak akan membiarkan kalender musim ini berakhir tanpa kejelasan.