Pencarian

Salomon XT-6 Diuji Jalan 93.000 Langkah di Lisbon, Begini Ketahanan Sepatu Trendi Itu

Minggu, 07 Juni 2026 • 00:21:31 WIB
Salomon XT-6 Diuji Jalan 93.000 Langkah di Lisbon, Begini Ketahanan Sepatu Trendi Itu
Salomon XT-6 diuji ketahanannya dengan berjalan 93.000 langkah di medan berat Lisbon.

Lisbon terkenal dengan tanjakan curam, ubin licin, dan trotoar berbatu yang tidak rata. Bagi siapa pun yang nekat menjelajahi kota itu dengan berjalan kaki, sepatu yang tepat bukan lagi soal gaya, melainkan kebutuhan. Ashley, staf penulis di Tom's Guide, membawa Salomon XT-6 sebagai satu-satunya alas kaki dalam perjalanan lima hari ke Portugal dan mencatat pengalamannya secara detail.

Genggaman Sol Karet yang Andal di Atas Batu Licin

Salah satu kekhawatiran terbesar saat berjalan di Lisbon adalah cobblestone—batu bulat kecil yang memenuhi hampir setiap sudut jalan. Meski dalam kondisi kering, permukaannya tetap berbahaya. Ashley mengaku nyaris tidak pernah kehilangan keseimbangan berkat sol karet dan lug dalam pada Salomon XT-6.

“Karet memberikan gesekan tinggi, sehingga meski di permukaan paling licin sekalipun, cengkeramannya tetap optimal,” tulisnya dalam laporan yang diterbitkan Tom's Guide. Ia menambahkan bahwa tidak ada satu pun momen di mana ia hampir terpeleset selama lima hari penuh.

Kenyamanan Kaki Tanpa Lecet di Tengah 93.000 Langkah

Data dari Oura Ring menunjukkan total langkah Ashley mencapai 93.337 langkah. Meski otot kakinya terasa terbakar karena tanjakan ekstrem, ia melaporkan tidak ada lecet, nyeri lengkung kaki, atau pegal di telapak kaki. “Kaki saya adalah bagian yang paling nyaman sepanjang perjalanan,” ujarnya.

Sepatu ini memang dirancang untuk lintasan alam berat, tapi popularitasnya di dunia streetwear justru karena tampilannya yang ramping dan modis. Kombinasi antara fungsi teknis dan estetika inilah yang membuat XT-6 menjadi pilihan utama di kalangan pecinta mode dan pendaki.

Lapisan Atas Mulai Longgar, Diduga karena Suhu 33°C

Namun, bukan berarti tidak ada celah. Pada hari kedua, setelah sekitar 40.000 langkah, Ashley menyadari bahwa overlay pada mesh upper mulai terangkat. Meski tidak sampai lepas, bagian itu kini sedikit mengelupas.

Ia menduga penyebabnya bukan karena pemakaian harian—sepatu ini sudah dipakai lebih dari sebulan sebelum perjalanan—melainkan suhu ekstrem yang mencapai 33 derajat Celsius. “Dengan semua tekukan saat menanjak, saya tidak terlalu terkejut, tapi agak kecewa karena sepatu ini masih dalam tiga bulan pertama pemakaian,” katanya.

Meski demikian, Ashley menegaskan bahwa ia tidak akan mengganti sepatu ini dengan merek lain untuk perjalanan serupa. “Salomon XT-6 benar-benar sepatu impian saya,” pungkasnya.

Dari Lintasan Alam ke Trotoar Kota: Fenomena Sepatu Hybrid

Kisah Ashley mencerminkan tren yang lebih besar: konsumen semakin mencari sepatu yang bisa berfungsi ganda. Salomon XT-6, yang lahir sebagai sepatu trail running, kini menjadi ikon streetwear global. Di Indonesia, tren serupa juga terlihat—sepatu dengan sol agresif dan upper minimalis mulai banyak dipakai di perkotaan, dari Jakarta hingga Bandung.

Namun, pengalaman Ashley juga menjadi pengingat bahwa tidak ada sepatu yang sempurna untuk semua kondisi. Suhu tinggi dan medan ekstrem dapat memengaruhi daya tahan material. Bagi pengguna Indonesia yang kerap menghadapi cuaca panas dan trotoar tidak rata, uji ketahanan semacam ini bisa menjadi pertimbangan sebelum memutuskan membeli.

Bagikan
Sumber: tomsguide.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks