DENPASAR — Bali tengah mengalami krisis kebudayaan yang akar masalahnya bukan sekadar degradasi seni atau tradisi, melainkan kegagalan kepemimpinan dalam skala luas. Hal ini disampaikan Jro Gde Sudibya, intelektual dan pengamat kecenderungan masa depan, dalam diskusi peringatan 93 tahun kelahiran Prof. I Gusti Ngurah Bagus, Selasa (14/7/2026).
Menurut Jro Gde Sudibya, dalam krisis yang terjadi saat ini, pemikiran dialektika—tesis, antitesis, dan sintesis—tidak lagi lahir. Yang lebih berbahaya, kegagalan tidak diakui dan justru dianggap sebagai kesuksesan melalui pencitraan dengan dana besar.
Jro Gde Sudibya mengutip istilah Soetan Sjahrir tentang “barisan orang bertitel” yang kini kerap menjadi alat pembenaran dan legitimasi kebijakan publik yang sarat masalah. Ia menyesalkan panggilan kenabian dari kalangan cerdik cendekiawan tidak muncul.
“Jangankan mengharapkan pemikiran jernih, kritis berdimensi masa depan, tempat ‘mesayuban’ bagi warga meminjam istilah Prof. Bagus di tengah ‘musim kering’ peradaban. Apalagi kritik keras model ‘matbat’ dengan niat dan itikad baik untuk koreksi, yang sering menimbulkan salah mengerti, ‘salah tampi’ yang kupingnya tipis,” katanya.
Di tengah krisis ini, revitalisasi pemikiran Prof. Bagus menjadi semakin mendesak, terutama terkait pergeseran sistem nilai dalam transformasi masyarakat yang disebut pembangunan. Jro Gde Sudibya, yang menjadi teman diskusi Prof. Bagus selama lebih dari 25 tahun, mengingatkan tentang kegagalan masyarakat menghadapi culture shock.
“Satu kakinya menginjak di tradisi agraris pertanian yang religius dan satu kaki lainnya telah berkubang dalam modernisme sekuler,” ujarnya.
Menurut Jro Gde Sudibya, Bali memerlukan Strategi Kebudayaan yang cerdas, bukan sekadar produk tontonan yang dijadikan komoditas politik. Strategi itu harus dirancang dalam pertemuan budaya—culture encounter—antar bangsa.
Ia juga mengenang perpustakaan pribadi Prof. Bagus yang begitu besar, yang didanai dengan cara—dalam bahasa berseloroh sang profesor—“berani membeli dari menjual tanah”. Koleksi buku itu, kata Jro Gde, kini mungkin hanya bisa “disantap” oleh putra bungsunya, Prof. Dr. Ir. Ngurah Santiarsa.
Nama Prof. I Gusti Ngurah Bagus tidak hanya dikenang sebagai antropolog dan budayawan Bali, tetapi juga sebagai sosok yang meletakkan fondasi kajian kebudayaan Bali di tingkat internasional. Guru Besar Program Doktor Bisnis Pariwisata Politeknik Pariwisata Negeri Bali, Prof. Dr. Gede Mudana, MSi, mengatakan Prof. Bagus dikenal sebagai “The Father of Balinese Studies”.
“Kalau orang ingin meneliti Bali pada masa itu, legitimasi akademiknya hampir selalu dikaitkan dengan Prof. Bagus. Beliau menjadi pintu masuk bagi banyak peneliti asing yang datang ke Bali,” ujar Mudana.
Pengamat sosial budaya Drs. Putu Suasta, M.A., menilai kekuatan terbesar Prof. Bagus terletak pada kemampuannya menjadi penggerak lahirnya gagasan-gagasan baru. Warisan akademiknya juga terlihat melalui pendirian Program Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana, yang menjadi pelopor studi cultural studies di Indonesia dengan pendekatan multidisipliner.