SINGARAJA — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan budaya merupakan napas kehidupan masyarakat Bali yang wajib dijaga dengan serius sepanjang masa. Hal itu disampaikannya saat membuka Buleleng Festival (Bulfest) 2026 yang berlangsung di Kabupaten Buleleng.
"Budaya tidak akan pernah mati, karena budaya adalah jiwa kehidupan kita, napas masyarakat Bali, maka jaga dengan konsisten dan serius sepanjang masa," kata Koster dalam keterangan resmi yang diterima di Denpasar, Rabu.
Koster menekankan pentingnya peran masyarakat, terutama generasi muda, untuk terus mengasah kreativitas. Ia memastikan proses regenerasi para seniman tradisional Bali harus berjalan secara berkelanjutan dari waktu ke waktu.
Dia mengapresiasi langkah Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra yang menyelenggarakan Bulfest 2026. Festival ini dinilai menjadi ruang strategis untuk memajukan, memperkuat, sekaligus mempromosikan karya seni dan budaya khas Buleleng.
Sebagai bentuk penghormatan atas kelestarian seni budaya daerah, Koster menyerahkan piagam penghargaan kepada tiga maestro tari legendaris asal Buleleng. Mereka adalah Ni Luh Sustiawati, Luh Herawati, dan Ni Luh Menek.
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi, konsistensi, dan kontribusi luar biasa ketiga maestro dalam mempertahankan serta memperkaya khazanah seni tari tradisional daerah.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan Bulfest 2026 bukan sekadar panggung hiburan tahunan. Ajang ini menjadi wadah bersama untuk menghidupkan kembali memori kolektif, identitas, dan rasa memiliki terhadap kebudayaan Buleleng.
Festival yang berlangsung hingga 23 Agustus 2026 ini mengusung tema "Uriping Rasa". Sutjidra menjelaskan tema tersebut memiliki makna bahwa kebudayaan akan senantiasa hidup apabila rasa di dalam hati masyarakat terus menyala.
"Uriping Rasa mengajak kita menjaga rasa hormat kepada leluhur, cinta pada tanah kelahiran, kebanggaan identitas, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, serta tanggung jawab mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya," ujarnya.
Di luar agenda budaya, Koster menjanjikan sejumlah pembangunan infrastruktur strategis untuk kawasan utara Pulau Dewata. Salah satunya kelanjutan pembangunan jalan pintas (shortcut) titik 9–10 yang diteruskan hingga titik 12.
Pemprov Bali juga akan mengembangkan Pelabuhan Celukan Bawang serta menata pelabuhan pendukung lainnya. Koster optimistis konektivitas dari Denpasar ke Buleleng bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam apabila seluruh proyek rampung pada 2029.
Selain itu, pemerintah menyiapkan pengembangan kawasan ekonomi di Kecamatan Gerokgak dan pengerjaan tahap kedua menara Turyapada Tower. Proyek ini dirancang untuk memperkuat daya saing Buleleng.
Lewat festival ini, masyarakat dapat menyaksikan panggung ekspresi bagi para seniman sekaligus ruang promosi kuliner, produk kerajinan, dan UMKM lokal. Koster menilai hal ini terbukti ampuh menggerakkan roda ekonomi kerakyatan.
Bulfest 2026 menghadirkan atraksi seni budaya, pameran produk UMKM, kuliner khas, hingga atmosfer kota tua Singaraja tempo dulu untuk memperkuat karakter sejarah daerah. Pemkab Buleleng berharap ajang ini mampu memicu kebanggaan warga, memupuk semangat gotong royong, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif setempat.
"Kita harus menunjukkan komitmen kita sama-sama untuk memajukan Buleleng, saya mohon guyub, bersatu menjaga Buleleng dan Bali agar tetap kondusif," kata Koster.