DENPASAR — Suasana berbeda terlihat di Graha Nawasena, Denpasar, Kamis (20/8/2026). Para pedagang tunarungu tampak cekatan melayani pengunjung yang datang ke stan mereka, berkomunikasi lancar menggunakan bahasa isyarat sambil menunjukkan produk-produk unggulan yang dipajang rapi.
Mereka adalah peserta Indonesia Cinta Disabilitas (ICD) 2026, ajang yang digelar Pemerintah Kota Denpasar pada 20-21 Agustus untuk mempromosikan karya-karya penyandang disabilitas. Event ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kreativitas dan semangat berwirausaha.
Kegiatan ini diikuti oleh 40 jenis UMKM yang seluruhnya dikelola oleh penyandang disabilitas. Produk yang dipamerkan beragam, mulai dari kerajinan tangan bernilai seni tinggi, kuliner khas, hingga busana dengan sentuhan desain lokal.
Kehadiran para pelaku usaha ini menunjukkan bahwa sektor UMKM inklusif memiliki potensi besar untuk berkembang di Bali. Mereka tidak hanya sekadar berjualan, tetapi juga membangun jaringan dan memperluas pasar.
ICD 2026 bukan sekadar pameran produk. Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Denpasar dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan hidup penyandang disabilitas di daerahnya.
Dengan memberikan ruang promosi yang layak, diharapkan produk-produk berkualitas dari para difabel ini semakin dikenal masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan upaya menciptakan ekosistem usaha yang setara dan berkeadilan bagi semua kalangan.
Momen menarik terjadi di stan kerajinan tangan. Seorang pengunjung tampak antusias mencoba berkomunikasi dengan pedagang tunarungu menggunakan bahasa isyarat sederhana. Interaksi ini menjadi pengalaman berharga yang mematahkan stigma tentang keterbatasan dalam dunia kerja.
Bagi para pengunjung, kehadiran ICD 2026 memberikan perspektif baru bahwa produk-produk lokal buatan penyandang disabilitas memiliki kualitas yang tidak kalah bersaing. Ajang ini juga menjadi sarana edukasi publik tentang pentingnya inklusivitas dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang berlangsung hingga Jumat (21/8/2026) ini diharapkan mampu menjadi agenda rutin tahunan yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di Pulau Dewata.