BALI — Kode tersebut langsung memicu spekulasi di kalangan penggemar sepak bola nasional. Sebelumnya, Oerip juga sempat berpose menggunakan jersey Timnas Indonesia bersama Sylvano Comvalius, sosok yang dikenal dekat dengan pemain diaspora. Momen ini dinilai sebagai bentuk komitmen pribadi sang pemain sebelum proses birokrasi resmi bergulir.
Staf Khusus Kemenkumham, Nur Korompot, membenarkan adanya nama-nama baru dalam daftar calon pemain naturalisasi. Ia menyebut dua talenta dari Jerman dan Belanda tengah diproses, menyusul rampungnya pengurusan dokumen Luke Vickery dan Mitchell Baker. Meski enggan merinci nama, spekulasi publik mengarah pada Oerip sebagai salah satu kandidat kuat dari Belanda.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan program naturalisasi yang dijalankan bukanlah proyek jangka pendek. Ia memastikan skuad Garuda membutuhkan kedalaman tim hingga dua sampai tiga lapis pemain untuk mengantisipasi badai cedera yang kerap menghantam di tengah padatnya kalender pertandingan.
"Kami tidak ingin sekadar menambah pemain, tetapi membangun kekuatan. Jepang bisa mendominasi Asia karena punya lima lapis pemain kelas dunia di setiap posisi," ujar Erick mencontohkan. Filosofi ini menjadi dasar seleksi ketat bagi setiap pemain diaspora yang masuk radar PSSI, termasuk Julian Oerip.
Di sisi lain, persaingan di posisi penjaga gawang Timnas Indonesia semakin ketat. Emil Audero resmi dikonfirmasi masuk skuad utama Como 1907 untuk musim 2026/2027. Pelatih Cesc Fabregas memberikan kepercayaan penuh dengan menyerahkan nomor punggung 12 kepada kiper kelahiran Mataram tersebut.
Kepastian ini sekaligus menutup rumor kepindahan Audero ke Juventus dan Monza. Musim lalu, performanya bersama Cremonese terbilang impresif meski timnya harus degradasi. Ia mencatatkan 123 penyelamatan, jumlah terbanyak di Serie A, sebuah statistik yang membuktikan kualitasnya di kompetisi elite Italia.
Kehadiran Oerip nantinya akan menambah persaingan ketat di bawah mistar gawang. Namun, jalur yang ditempuh pemain AZ Alkmaar berbeda dengan Audero. Oerip masih berstatus pemain muda yang membutuhkan menit bermain reguler, sementara Audero sudah malang melintang di Eropa.
Keputusan Oerip untuk secara terang-terangan menunjukkan simbol Indonesia di perlengkapannya menjadi nilai tambah tersendiri. Hal ini menunjukkan adanya ikatan emosional yang kuat, faktor yang kerap menjadi pertimbangan penting PSSI dalam menentukan pemain naturalisasi, bukan hanya sekadar kualitas teknis di lapangan.