BALI — Ini menjadi bulan kedua berturut-turut angka kebangkrutan usaha di Jepang menembus 1.000 entitas. Data Teikoku Databank Ltd, perusahaan riset kredit korporasi, mencatat kebangkrutan yang dipicu kekurangan tenaga kerja menyentuh rekor tertinggi 63 kasus. Dari jumlah itu, 36 kasus di antaranya disebabkan kenaikan biaya personel yang dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
"Kenaikan gaji tidak dapat dihindari untuk mengamankan pekerja, tetapi perusahaan memperburuk arus kas mereka dengan menaikkan upah di luar kemampuan mereka ketika mereka tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup," ujar pejabat Teikoku Databank Ltd.
Pelemahan Yen dan Efek Domino Zentoshin
Kebangkrutan akibat kenaikan harga—yang sebagian besar merupakan buntut panjang pelemahan yen—juga meningkat ke 93 kasus. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2022.
Faktor pemicu lain datang dari kolapsnya Zentoshin, raksasa penyedia sistem transaksi kartu kredit berbasis di Osaka. Perusahaan ini mengajukan permohonan kebangkrutan pada Juli 2026 dengan kewajiban 115,16 miliar yen, menjadikannya kebangkrutan terbesar di Jepang sejauh tahun ini.
Kejatuhan Zentoshin langsung menghantam UMKM, terutama pengusaha restoran dan ritel kecil yang sangat bergantung pada layanan pembayaran cepat dari perusahaan tersebut. Para pengusaha kecil ini memiliki fleksibilitas arus kas sangat terbatas dan mengandalkan pembayaran lebih awal untuk menjaga operasional harian.
Total Beban Utang Melonjak 41,4 Persen
Secara keseluruhan, total kewajiban perusahaan yang bangkrut sepanjang Juli 2026 mencapai 236,3 miliar yen (sekitar Rp 26,22 triliun dengan asumsi kurs Rp 111 per yen). Angka ini melonjak 41,4 persen secara year-on-year.
Tekanan ekonomi yang berlapis ini menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem bisnis kecil di Jepang saat menghadapi inflasi biaya input dan sulitnya mendapatkan pekerja. Kombinasi upah naik, harga bahan baku tinggi, dan gangguan rantai pembayaran menjadi kombinasi mematikan bagi usaha kecil.
Dengan tren dua bulan beruntun di atas 1.000 kasus, para pengamat memprediksi angka kebangkrutan di Jepang masih akan terus bertambah hingga akhir tahun jika kondisi ekonomi tidak membaik.