Pencarian

PFII di Bali Jadi Katalis BUVA, MINA, dan GOLF, Analis: Dampak Fundamental Masih Butuh Waktu

Kamis, 20 Agustus 2026 • 14:07:31 WIB
PFII di Bali Jadi Katalis BUVA, MINA, dan GOLF, Analis: Dampak Fundamental Masih Butuh Waktu
Suasana kawasan wisata di Bali yang menjadi lokasi potensial pengembangan Proyek Fasilitas Investasi dan Infrastruktur (PFII).

BALI — PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) disebut menjadi emiten dengan potensi keuntungan paling besar dari rencana pembangunan PFII. Perusahaan milik Happy Hapsoro, suami Ketua DPR RI Puan Maharani, ini mengelola jaringan hotel premium di Bali, termasuk Alila Villas Uluwatu, Alila Ubud, dan Alila Manggis. Ekspansi lahan di kawasan Pecatu dan Uluwatu juga terus dilakukan perseroan melalui anak usahanya.

Di sisi lain, PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) memiliki eksposur terhadap kawasan Sanur, salah satu area yang disebut masuk dalam rencana pengembangan PFII. Perusahaan ini memiliki resor The Santai di Umalas serta land bank seluas sekitar 4 hektare di Sanur yang disiapkan untuk pengembangan resor mewah, hunian, dan area komersial.

BUVA Paling Siap Menyerap Dampak Positif PFII

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai BUVA memiliki posisi paling strategis untuk menyerap dampak langsung dari PFII. Hal ini ditopang oleh portofolio bisnis perhotelan dan properti premium yang sudah mapan di Bali.

"BUVA menjadi emiten yang paling berpotensi mendapatkan manfaat langsung dari PFII, terutama dari sisi bisnis perhotelan dan properti premium di Bali," kata Elandry kepada Katadata.co.id, Kamis (20/8).

Sementara itu, MINA dinilai berpotensi mendapat sentimen positif dari pengembangan kawasan Sanur. Kendati demikian, investor diminta mencermati volatilitas perdagangan sahamnya yang cukup tinggi. Adapun GOLF, yang dikelola putra Tommy Soeharto, Darma Mangkuluhur Hutomo, masih bertumpu pada cerita pengembangan kawasan Pecatu Indah Resort.

Target Harga Bertahap di Tengah Ketidakpastian Realisasi

Elandry belum melihat alasan untuk memberikan target harga yang terlalu agresif kepada ketiga emiten sebelum ada katalis fundamental yang lebih konkret. Ia memperkirakan pergerakan wajar BUVA berada di kisaran Rp 800–850 per saham, MINA Rp 290–310 per saham, dan GOLF Rp 175–185 per saham.

"Saya lebih nyaman dengan target bertahap seperti ini mengingat PFII masih dalam tahap awal. Investor tetap perlu melihat realisasi PFII, perkembangan investasi, dan kinerja masing-masing emiten," ujarnya.

Elandry juga mengingatkan risiko jika sentimen pasar bergerak lebih cepat dibandingkan fundamental perusahaan. Kondisi ini bisa memicu koreksi harga yang tajam di kemudian hari.

Danantara Cari Modal Asing untuk Pembangunan PFII

Di sisi pendanaan, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah menjajaki potensi modal dari berbagai negara. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyebutkan potensi modal terbesar diproyeksikan berasal dari family office, dengan salah satu sumber utamanya dari Dubai, Uni Emirat Arab.

Rosan mengaku telah banyak menerima masukan dari The Dubai International Financial Centre (DIFC). Menurutnya, Dubai memiliki fondasi finansial yang kuat untuk dijadikan referensi pengembangan PFII.

Pada tahap awal, PFII akan berlokasi di Jakarta sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, pembangunan di Bali membutuhkan waktu lebih panjang karena harus menyiapkan infrastruktur, gedung, dan fasilitas pendukung. Menariknya, calon investor justru disebut lebih tertarik dengan rencana pengembangan PFII di Bali.

Investasi mengandung risiko.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks