DENPASAR — Anak Agung Gede Dalem Pemayun dinyatakan lulus dengan predikat cum laude dalam sidang terbuka Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya UNHI Denpasar, Rabu (26/8/2026). Disertasi yang dipertahankannya berjudul "Implementasi Sewaka Dharma Dalam Mengoptimalkan Pelayanan Kesehatan di Biddokes Polda Bali".
Gelar doktor ini merupakan yang pertama bagi Dalem Pemayun. Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan magister Administrasi Publik di Universitas Ngurah Rai dan sarjana Hukum di Universitas Dwijendra.
Dalem Pemayun menemukan bahwa pelayanan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan standar operasional prosedur (SOP) dan manajemen modern. Nilai-nilai kearifan lokal perlu diakomodasi agar layanan kepada pasien menjadi lebih humanis.
"Kalau kita hanya dengan sistem sesuai SOP atau manajemen modern, kadang-kadang kita lalai atau tidak pernah memperhatikan kearifan lokal. Maka pelayanan atau suatu kepuasan itu tidak akan optimal," kata Dalem Pemayun seusai sidang promosi doktor.
Konsep manajemen hybrid yang dikembangkannya menempatkan Sewaka Dharma sebagai fondasi utama. Nilai ini menekankan pelayanan yang tulus, penuh empati, dan memuliakan orang yang dilayani.
Menurut Dalem Pemayun, penerapan Sewaka Dharma mampu membangun hubungan emosional antara petugas layanan dan pasien. Prinsipnya sederhana: berikan pelayanan terbaik sebagaimana kita memperlakukan orang tua sendiri.
"Kalau kita memberikan pelayanan sudah seperti ibu sendiri, begitu juga kita memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita muliakan dia, kita hormati dia. Sehingga di situ ada rasa empati, ada rasa tulus ikhlas, ada rasa memiliki," ujarnya.
Model ini dinilai tidak hanya relevan untuk Biddokkes Polda Bali. Dalem Pemayun menyebut konsep tersebut dapat dikembangkan di berbagai lingkungan pelayanan publik lainnya, termasuk di luar Provinsi Bali.
Dalem Pemayun menegaskan hasil penelitiannya tidak boleh berhenti sebagai kajian akademik semata. Ia mendorong agar nilai Sewaka Dharma benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun di institusi pelayanan.
"Jangan ilmu itu hanya dibaca, melainkan diimplementasikan," tegasnya.
Ia mencontohkan, penerapan prinsip pelayanan humanis bisa dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Hubungan emosional yang baik di dalam keluarga akan menjadi cermin bagi kualitas pelayanan di institusi yang lebih besar.
Ke depan, Dalem Pemayun berkomitmen melanjutkan penelitian mengenai Sewaka Dharma dan pengembangan konsep pelayanan. Menurutnya, ruang kajian di bidang ini masih sangat luas karena pelayanan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
"Semua manusia dan semua yang ada di alam ini penuh dengan pelayanan. Bukan hanya di rumah sakit saja. Dari lingkungan yang terkecil, keluarga itu bagian daripada pelayanan," pungkasnya.