DENPASAR — Layanan ablasi jantung dengan bantuan teknologi pemetaan tiga dimensi (3D) resmi tersedia di Siloam Hospitals Bali. Kehadiran alat ini menjadi kabar baik bagi pasien aritmia di Bali dan sekitarnya, yang selama ini harus menghadapi waktu tunggu panjang atau dirujuk ke Jakarta dan Surabaya.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia, I Made Putra Swi Antara, menjelaskan bahwa teknologi ini mengubah cara dokter menemukan sumber gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Jika sebelumnya ablasi konvensional hanya mengandalkan sinyal listrik, kini dokter bisa melihat gambaran ruang jantung secara detail.
Putra mengungkapkan, kebutuhan layanan ablasi di Bali sangat tinggi. Saat masih bertugas di salah satu rumah sakit pemerintah, ia menangani sekitar 120 kasus ablasi dalam setahun. Namun, angka itu belum sebanding dengan jumlah pasien yang membutuhkan.
"Di awal tahun antrean di rumah sakit pemerintah untuk tindakan yang memerlukan ablasi itu sekitar 4 sampai 6 bulan. Karena keterbatasan lebih ke orangnya sih yang mengerjakan, tapi jumlah pasiennya cukup banyak," imbuhnya.
Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) menjadi kendala utama. Saat ini baru dirinya yang menangani tindakan tersebut di Bali, dan akan bertambah satu dokter lagi. Padahal, aritmia adalah kondisi serius yang bisa memicu komplikasi fatal jika tidak ditangani tepat waktu.
Putra menganalogikan teknologi 3D ini seperti menggunakan aplikasi navigasi untuk menemukan titik "korsleting" pada sistem listrik jantung. Prosedur ablasi sendiri diibaratkannya seperti memperbaiki komponen elektronik yang rusak.
"Tindakan ablasi adalah bagaimana kita memperbaiki kabel listrik yang bermasalah itu. Mungkin bisa dianalogikan seperti orang servis elektronik. Dicari komponen mana yang bermasalah, nanti disolder atau diganti di bagian itu," ujarnya, Sabtu (29/8/2026).
"Kalau dengan 3D ini bisa diibaratkan kayak pakai Google Maps, pakai GPS. Jadi sama tujuannya membawa kita ke tujuannya nyari di mana titik korsletnya, tetapi tentu saja jauh lebih praktis, lebih cepat, dan mungkin lebih aman, nggak pakai tersesat-tersesat banyak gitu," jelasnya.
Dengan panduan 3D, dokter dapat membedakan dengan jelas bagian jantung yang perlu ditangani dan yang harus dihindari. Hal ini berpotensi mempersingkat durasi tindakan yang biasanya memakan waktu satu hingga tiga jam, tergantung kompleksitas kasus.
Hospital Director Siloam Hospitals Bali, Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, menegaskan bahwa kehadiran teknologi ini bertujuan memperluas akses layanan jantung bagi masyarakat, terutama pasien dari wilayah Indonesia Timur. Secara geografis, Bali jauh lebih dekat dibandingkan Jakarta atau Surabaya.
"Kalau dari Indonesia Timur ke Bali lebih dekat daripada harus ke Jakarta, Surabaya, apalagi ke luar negeri. Jadi tujuannya memang kembali untuk meningkatkan accessible atau akses masyarakat untuk mendapatkan layanan yang lebih komprehensif untuk jantung," katanya.
Meski demikian, layanan ini membutuhkan biaya yang relatif tinggi karena alatnya masih langka. Biaya tindakan ablasi dengan teknologi 3D diperkirakan mencapai Rp 190 juta hingga Rp 200 juta, sebuah angka yang masih menjadi tantangan besar bagi pasien dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.