Ekonomi Kreatif Bali Dinilai Besar tapi UMKM Lokal Belum Menikmati, Anggota DPR Soroti Akses Pembiayaan

Penulis: Vino Bastian  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:01:31 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menyoroti kesenjangan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM ekonomi kreatif di Bali saat kunjungan kerja di Kabupaten Tabanan, Jumat (28/8/2026).

TABANAN — Besarnya geliat pariwisata di Bali disebut belum berbanding lurus dengan manfaat ekonomi yang dirasakan pelaku usaha kecil. Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menilai masih ada celah antara besarnya pasar yang tersedia dengan porsi keuntungan yang benar-benar masuk ke kantong UMKM lokal.

Hal itu ia sampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke kawasan kreatif Nuanu Creative City Inc di Kabupaten Tabanan, Jumat (28/8/2026). Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada minimnya pasar, melainkan pada belum terhubungnya pelaku usaha lokal secara berkelanjutan dengan rantai pasok industri pariwisata.

Kesenjangan Pembiayaan untuk Sektor Kreatif

Novita menyoroti masih adanya kesenjangan penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha di sejumlah sektor di Kabupaten Tabanan. Ia menduga ada kendala administratif atau persyaratan pembiayaan yang tidak sesuai dengan karakteristik usaha kreatif.

Berbeda dengan usaha konvensional, pelaku ekonomi kreatif kerap mengandalkan karya dan kekayaan intelektual sebagai modal utama. Mereka belum tentu memiliki aset fisik yang cukup untuk dijadikan agunan saat mengajukan pinjaman ke perbankan.

Perlu Pola Pembiayaan Baru yang Sesuai Karakter UMKM

“Kita perlu menemukan pola pembiayaan yang lebih tepat agar pelaku ekonomi kreatif mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam mengakses permodalan,” tegasnya.

Politikus PDI Perjuangan itu meminta pemerintah dan sektor perbankan mengevaluasi pola pembiayaan yang selama ini diterapkan. Dukungan terhadap UMKM dan ekonomi kreatif, kata dia, tidak boleh berhenti pada program yang bersifat formalitas belaka.

Penguatan Ekonomi Kreatif dari Hulu ke Hilir

Menurut Novita, penguatan ekonomi kreatif harus dibangun dari hulu hingga hilir. Akses permodalan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kekayaan intelektual, keterhubungan dengan industri pariwisata, serta kepastian pasar bagi produk pelaku usaha lokal.

“Jangan sampai kita hanya memiliki ekosistem kreatif yang terlihat besar, tetapi pelaku UMKM lokal justru tidak menjadi bagian utama dari rantai pasoknya. Ini harus menjadi pekerjaan bersama,” pungkasnya.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: sudutkota.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top