BALI — Prosesi pengambilan sumpah dipimpin Ketua Mahkamah Agung. Ketiganya kompak menjawab "bersedia" saat ditanya kesediaan mengucapkan sumpah sesuai keyakinan agama masing-masing. Setelah itu, mereka membacakan ikrar jabatan yang menegaskan komitmen setia kepada negara, konstitusi, dan haluan negara.
Transisi kepemimpinan ini berlangsung pada momen yang tidak sederhana. Nilai tukar rupiah masih berfluktuasi di tengah kuatnya indeks dolar AS, sementara bank sentral global menjaga suku bunga tinggi. Destry mewarisi kebijakan yang tahun ini konsisten mempertahankan suku bunga acuan untuk menstabilkan kurs dan mengendalikan inflasi.
Pengalaman Destry bukan barang baru di otoritas moneter. Sebelumnya ia menjabat Deputi Gubernur Senior BI dan pernah menjadi anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Jejak panjangnya di sektor keuangan memberi sinyal keberlanjutan bagi pelaku pasar, khususnya perbankan dan investor obligasi yang kerap menunggu arah kebijakan moneter.
Formasi baru ini sekaligus menjawab kebutuhan estafet kepemimpinan di BI. Berikut susunan pejabat yang dilantik:
Trio ini akan bekerja sama mengawal stabilitas moneter dan sistem pembayaran lima tahun ke depan.
Dalam sumpah yang diucapkan, mereka berjanji tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada siapa pun dengan dalih apa pun dalam menjalankan tugas. Komitmen anti-gratifikasi ini menjadi fondasi integritas yang selama ini dijaga institusi bank sentral.
Pelaku pasar biasanya menunggu sinyal pertama dari rapat dewan gubernur berikutnya. Fokus utama tertuju pada arah suku bunga acuan dan strategi intervensi nilai tukar. Dengan latar belakang Destry yang dekat dengan isu stabilitas sistem keuangan, pasar memperkirakan prioritas kebijakan akan tetap pada pengendalian inflasi dan penguatan cadangan devisa.
Kesinambungan tim juga menjadi nilai tambah. Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro adalah nama-nama yang sudah malang melintang di internal BI, sehingga tidak ada masa transisi yang panjang dalam hal pemahaman teknis kebijakan.
Publik dan pelaku usaha kini menanti langkah konkret pengawasan perbankan dan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk menjaga pertumbuhan kredit di tengah perlambatan ekonomi global.