I Komang K Soroti Tata Kelola Wewenang di Bali, Ingatkan Risiko Loyalitas Jangka Pendek

Penulis: Vino Bastian  •  Kamis, 17 September 2026 | 05:31:01 WIB

DENPASAR — I Komang K (IKK) menyoroti pentingnya menempatkan wewenang pada figur yang tepat untuk mengoreksi penyimpangan dalam organisasi maupun tata kelola publik. Refleksi itu ia sampaikan dalam catatan perjalanan dari Negara, Jembrana menuju Denpasar, Rabu (16/9/2026).

Menurut IKK, ketidakberanian seseorang bertindak saat melihat kesalahan kerap bukan disebabkan kelemahan karakter pribadi. Keterbatasan wewenang formal yang dimiliki dinilainya jadi penyebab utama. Refleksi itu ia tuangkan dalam empat poin utama soal kepemimpinan dan tata kelola wewenang.

Wewenang Proporsional dan Kuasa Hukum untuk Mengoreksi

Poin pertama, IKK menekankan pentingnya penguatan wewenang. Wewenang yang proporsional dan kuat dinilainya akan melahirkan keberanian serta kuasa hukum untuk membenarkan situasi salah. Wewenang itu juga diperlukan untuk mengarahkan sumber daya agar kesalahan serupa tidak terulang.

Membiarkan Masalah Berlarut Mengikis Marwah Wewenang

IKK menyoroti fenomena yang cenderung membiarkan situasi salah berlangsung dengan harapan membaik seiring waktu. Pola itu, menurutnya, justru mengikis marwah serta efektivitas wewenang itu sendiri. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai tantangan pembiayaan masalah.

Keberanian Mengoreksi dan Menjaga Prinsip Kebenaran

Wewenang idealnya dipegang oleh sosok yang berani melakukan koreksi dan perbaikan. IKK menegaskan figur tersebut juga harus menjaga prinsip kebenaran, terlepas dari apakah opsi yang diambil diadopsi atau tidak.

"Wewenang diberikan semestinya ke tangan yang tepat agar ia bisa tidak saja berani mengoreksi dan memperbaiki, tetapi juga menjaganya tetap benar," ungkap I Komang K (IKK) dalam catatan perjalanannya dari Negara, Jembrana menuju Denpasar, Rabu (16/9/2026).

Dilema Seleksi: Integritas versus Loyalitas Jangka Pendek

IKK menilai mengidentifikasi figur yang tepat memerlukan pendekatan, verifikasi, dan kepercayaan penuh. Namun dalam praktiknya, pilihan kerap tergelincir pada aspek loyalitas berbasis kepentingan jangka pendek. Dilema seleksi itu dinilainya jadi titik rawan dalam tata kelola wewenang.

Proses pencarian figur pemimpin yang memiliki integritas dan keberanian bertindak disebut IKK sebagai ujian mendasar bagi para pembuat keputusan (users). Ketaatan pada prinsip serta kejelian memilih SDM berkualitas jadi faktor penentu.

Menurut IKK, faktor itulah yang menentukan apakah suatu organisasi mampu bangkit mengoreksi kesalahan. Jika salah langkah, organisasi berisiko terjebak dalam arus formalitas semata.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: letternews.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top