DENPASAR — Cheese Boutique by Rosalie menggelar sesi mencicipi keju yang diikuti 12 peserta di Denpasar, Bali. Meja panjang dipenuhi aneka jenis keju beserta pendampingnya, dari fruit preserves hingga madu. Satu per satu keju dicicipi mengikuti panduan yang disusun Rosalie Cheese.
Para peserta mengamati bagaimana rasa keju berubah ketika bertemu pendamping berbeda. Mereka juga mengenali karakter rasa, tekstur, dan aroma masing-masing jenis. Sesi ini tidak dimulai dari keju dengan rasa paling kuat, melainkan dari pengenalan karakter tiap keju.
Setelah sesi pairing, acara berlanjut dengan roti-roti yang akrab dalam tradisi kuliner Prancis. Ada croissant, baguette, dan olive bread yang disajikan bersama keju. Kombinasi ini memperlihatkan bagaimana tekstur dan rasa berubah ketika keju disantap bersama makanan pendamping.
Rosalie Cheese menawarkan berbagai pengalaman pairing, termasuk dengan buah, crackers, dan Arenga nectar. Beberapa produknya dipadukan dengan fruit preserves dan madu. Peserta diajak mencari pasangan yang sesuai dengan selera masing-masing.
Bagi Verarika Sidabutar, pengalaman mencicipi makanan Prancis bukan sesuatu yang ingin ia simpan sendiri. Sejak 2011, ia bekerja sebagai tour guide berbahasa Prancis. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di bidang Pendidikan Bahasa Prancis.
Pengalaman tersebut membuatnya ingin membawa anak dan keluarganya lebih dekat dengan budaya Prancis melalui makanan.
"Memberi kenangan positif dan membuka jendela untuk mereka lebih berani bermimpi lebih luas," ujar Verarika menceritakan kesannya mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, keju dapat menjadi cara sederhana untuk mengenalkan bahwa setiap budaya memiliki kebiasaan makan berbeda. Keju mungkin bukan makanan sehari-hari bagi banyak orang Indonesia, tetapi Indonesia punya tradisi olahan susu khas. Salah satunya Dali ni Horbo, makanan tradisional masyarakat Batak di Sumatra Utara yang dibuat dari susu kerbau dan kerap disebut keju Batak.
Pengalaman mencicipi keju tidak selalu berakhir dengan setiap orang menemukan keju favoritnya. Trishna menyukai Lucie in Bali versi Camembert, Chevre, dan Black & White. Valerie mencoba hampir semuanya sedikit demi sedikit, meski sebagian besar cicipannya kemudian diberikan kepada sang papa.
"Kalau saucisson, jangan ditanya, akan lenyap, tak akan berjejak. Demikian juga dengan pâté," ujar Verarika bercerita tentang makanan yang cepat habis di keluarganya.
Verarika menyebut tidak menyukai keju bukan berarti seseorang tidak dapat menikmati gastronomi Prancis. Orang Prancis sendiri memiliki selera berbeda-beda. Ia mengibaratkannya dengan pengalaman sebagian orang Prancis ketika mencicipi durian untuk pertama kali.
"Semua hanya soal kebiasaan dan bagaimana lidah kita sudah terbiasa dengan rempah-rempah, bukan dengan keju," katanya.
Rosalie Cheese membuat berbagai jenis keju menggunakan susu yang bersumber dari peternak di Jawa dan Bali. Susu tersebut diolah menjadi produk dengan karakter berbeda-beda. Verarika sendiri bersyukur pernah mencicipi berbagai keju, seperti Gorgonzola, Gouda, Camembert, Comté, dan Brie.
Cheese Tasting & Pairing tidak hanya menjadi kesempatan mengenal cara menikmati keju. Kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana produk gastronomi dapat dibuat dan dikembangkan di Indonesia.